86 Tahun Konsisten dalam Poros Perlawanan, Sayyid Ali Khamenei Ajarkan Keteguhan dalam Perjuangan

Diary Warda
3 Min Read

86 Tahun Konsisten dalam Poros Perlawanan, Sayyid Ali Khamenei Ajarkan Keteguhan dalam Perjuangan

Diary Warda
3 Min Read

SUDUT PANDANG, DIALOGMASA.com – Kepergian Ali Khamenei bukan sekadar duka atas wafatnya seorang pemimpin dunia. Lebih dari itu, saya merasa kehilangan seorang guru besar kehidupan—figur yang mengajarkan arti keteguhan dalam memegang prinsip, bahkan ketika jalan yang ditempuh penuh risiko dan pengorbanan.

Sejarah hidupnya tidak lahir dari ruang nyaman kekuasaan. Ia pernah dipenjara dari satu sel ke sel lain pada masa pemerintahan Mohammad Reza Pahlavi. Ia juga menjadi saksi dan bagian dari pergolakan besar yang mengiringi lahirnya Revolusi Iran. Dalam perjalanan panjang itu, ia menghadapi ancaman pembunuhan dan mengalami cedera permanen pada tangannya akibat serangan bom. Namun semua ujian tersebut tidak pernah membuatnya surut dari keyakinan yang dipegangnya.

Saya mengaguminya bukan semata karena jabatannya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran atau sebagai otoritas keagamaan dalam konsep Wilayah al-Faqih. Kekaguman itu lahir dari konsistensinya. Sebagai pemimpin negara, ia memiliki pilihan untuk hidup dalam kenyamanan dan keamanan. Namun, ia justru memilih jalan terjal: berdiri di garis depan menghadapi hegemoni asing dan tekanan politik global. Hingga usia 80-an, ia tetap berada di poros perlawanan—menjadi simbol sikap tegas bagi mereka yang merasa tertindas, termasuk dalam isu Palestina dan kawasan Timur Tengah.

Perjuangan semacam ini tidak berhenti pada raga. Nilai-nilai yang ia suarakan—ketaatan terhadap agama yang berpadu dengan rasionalitas, kemandirian bangsa, harga diri nasional, serta keberpihakan kepada kaum lemah—ditanamkannya secara sistematis dalam fondasi sosial dan politik Iran. Ia tidak hanya membangun struktur kekuasaan, tetapi juga membentuk karakter kolektif.

Warisan terbesarnya bukan sekadar kebijakan atau strategi geopolitik, melainkan pendidikan karakter bagi generasi muda: pemahaman yang mendalam, kesadaran akan jati diri, kemandirian dalam berpikir dan bertindak, serta keberanian melawan ketidakadilan. Berdiri di atas kaki sendiri, tanpa tunduk pada tekanan eksternal, adalah kemuliaan yang tak ternilai.

Karena itu, kepergiannya—bagi saya—tidak berarti akhir dari gagasan yang diperjuangkannya. Semangat tersebut akan terus menyala dalam berbagai perspektif dan medan pengabdian. Ia telah menanam benih yang akan terus tumbuh di ruang-ruang kesadaran umat.

Selamat jalan, Sang Pewaris Perjuangan.
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.” (QS. Al-Fajr: 27–30).

Kini, tugas itu beralih kepada kaum muslimin lainnya untuk melanjutkan ikhtiar menegakkan nilai, martabat, dan keadilan.

Oleh: Muhammad Alwi (Dosen, Sarjana Psikologi dan Magister Manajemen Human Resource)

Leave a Comment
error: Content is protected !!
×

 

Hallo Saya Admin Dialogmasa !

Jika Ada Saran, Kritikan maupun Keluhan yuk jangan Sungkan Untuk Chat Kami Lewat Pesan Pengaduan Dibawah ini Ya 

×