ARTIKEL, DIALOGMASA.com – Selama lebih dari empat dekade, Iran menjadi sasaran salah satu eksperimen paling agresif dalam politik kekuatan global. Amerika Serikat dan sekutunya—terutama Israel—terus berupaya mengguncang, melemahkan, bahkan menjatuhkan Republik Islam Iran. Namun jika hasilnya dinilai secara jujur, satu kesimpulan sulit dibantah: seluruh upaya tersebut gagal.
Sanksi ekonomi yang dibungkus dengan istilah “tekanan maksimum” pada hakikatnya merupakan bentuk hukuman kolektif terhadap rakyat sipil. Pembatasan akses Iran terhadap perdagangan internasional, sistem perbankan, dan ekspor minyak tidak menghantam elit kekuasaan, melainkan masyarakat biasa. Logika kebijakan ini sederhana sekaligus problematis: buat rakyat menderita, maka mereka akan memberontak. Ini bukan diplomasi, melainkan pemaksaan yang tidak bermoral.
Ironisnya, penderitaan tersebut justru tidak menghasilkan efek yang diharapkan Washington. Alih-alih memicu kejatuhan negara, tekanan eksternal malah memperkuat identitas nasional Iran. Pengalaman panjang intervensi asing membuat masyarakat Iran sangat peka terhadap upaya dominasi dari luar. Ketika kedaulatan diserang, perbedaan internal mengecil dan solidaritas kebangsaan menguat.
Intimidasi militer, sabotase, hingga serangan siber pun gagal memaksa Iran ke meja penyerahan. Sebaliknya, negara ini belajar beradaptasi—mengembangkan kemampuan pertahanan domestik dan memperkuat posisi strategisnya di kawasan. Inilah paradoks besar kebijakan Barat: semakin keras tekanan diberikan, semakin tangguh Iran menjadi.
Dimensi lain yang tak kalah penting adalah perang narasi. Media internasional kerap menggambarkan Iran sebagai negara di ambang kehancuran, tanpa secara jujur mengakui bahwa krisis ekonomi dan sosial yang terjadi merupakan dampak langsung dari sanksi dan tekanan eksternal. Setiap gelombang protes dibingkai sebagai tanda keruntuhan negara, sementara akar persoalannya sengaja diabaikan.
Upaya Barat mempromosikan tokoh-tokoh oposisi di luar negeri yang minim legitimasi di dalam Iran semakin menunjukkan keterputusan kebijakan luar negeri mereka dari realitas sosial masyarakat Iran. Perubahan politik tidak bisa direkayasa dari luar, seolah-olah mengganti manajemen sebuah perusahaan multinasional.
Yang sesungguhnya kita saksikan hari ini bukanlah melemahnya Iran, melainkan krisis strategi Amerika Serikat itu sendiri. Ketika kekuatan ekonomi dan pengaruh globalnya mengalami penurunan, destabilisasi menjadi substitusi bagi kepemimpinan. Jika suatu negara tidak bisa dikendalikan, maka ia harus dibuat kacau.
Pendekatan ini sangat berbahaya. Ia merusak tatanan hukum internasional, memperdalam konflik regional, dan mendorong dunia menuju polarisasi yang semakin tajam. Dalam jangka panjang, strategi ini tidak memperkuat Barat, justru semakin mengasingkannya dari banyak negara yang kini mencari kemandirian dan tatanan dunia yang lebih adil.
Iran tentu bukan negara tanpa masalah. Ia memiliki persoalan internal sebagaimana negara lain. Namun satu hal jelas: masa depan Iran hanya dapat ditentukan oleh rakyat Iran sendiri—bukan oleh sanksi, ancaman militer, atau rekayasa kekuatan asing. Sejarah menunjukkan, kekaisaran tidak runtuh karena ditentang, melainkan karena menolak berbenah.
Dan dalam kasus Iran, pihak yang kini berada di titik kelelahan bukanlah negara yang diserang, melainkan kekuatan yang selama ini menyerangnya.
Abdullah
Pakar Studi Timur Tengah, Universitas Brawijaya

