PASURUAN, DIALOGMASA.com — Kenaikan harga cabai rawit yang terjadi dalam sepekan terakhir mulai berdampak langsung pada pelaku usaha kuliner. Di tengah lonjakan harga tersebut, pedagang seblak di wilayah Kraton memilih menerapkan strategi penyesuaian harga agar tetap bertahan dan tidak merugi.
Berdasarkan pantauan pasar, harga cabai rawit di Pasar Kabupaten Pasuruan, menunjukkan tren kenaikan sejak awal pekan. Pada Senin, harga cabai rawit masih berada di kisaran Rp70 ribuan per kilogram, kemudian terus merangkak naik dari hari ke hari. Hingga Jumat, 6 Februari 2026, harga cabai rawit tercatat mencapai Rp83.300 per kilogram di Pasar Pandaan, menandai lonjakan signifikan dalam waktu singkat.
Kenaikan harga ini menjadi tantangan serius bagi pedagang makanan berbasis pedas, salah satunya usaha seblak yang sangat bergantung pada cabai rawit sebagai bahan utama.

Menanggapi kondisi tersebut, Mbak Ririn, pedagang seblak “Kedai Mini” di kawasan Plinggisan Kraton, mengaku terpaksa melakukan penyesuaian strategi penjualan. Kepada Dialog Masa, Sabtu, 7 Februari 2026, ia mengatakan bahwa harga cabai rawit di tingkat pedagang eceran bahkan sudah lebih tinggi.
“Di daerah sini bahkan sudah mencapai 90 ribuan harga cabai rawit, jadi cukup berat untuk usaha kecil seperti kami,” ujarnya.
Untuk menghindari kerugian tanpa menghilangkan pelanggan, Mbak Ririn memilih langkah selektif dalam penyesuaian harga. Ia tidak menaikkan seluruh menu, melainkan hanya pada level kepedasan tertentu.
“Untuk level tertentu kita minta tambahan Rp2.000, sementara untuk level bawah tetap. Jadi pelanggan masih punya pilihan,” jelasnya.
Strategi tersebut dinilai sebagai cara bertahan di tengah tekanan kenaikan harga bahan baku, sekaligus menjaga daya beli konsumen. Para pedagang berharap harga cabai rawit dapat segera stabil agar usaha kuliner kecil tidak terus tertekan oleh biaya produksi yang meningkat. (AL/WD)

