Fenomena FOMO dan Perilaku Belanja Impulsif di Masyarakat

Diary Warda
4 Min Read

Fenomena FOMO dan Perilaku Belanja Impulsif di Masyarakat

Diary Warda
4 Min Read

ARTIKEL, DIALOGMASA.com – Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam pola konsumsi masyarakat. Proses belanja kini menjadi semakin mudah, cepat, dan praktis melalui berbagai platform daring. Namun, kemudahan tersebut juga memunculkan tantangan baru, salah satunya meningkatnya perilaku konsumtif yang kerap terjadi tanpa disadari.

Dilansir dari konten edukasi keuangan yang dibagikan akun Instagram @satu.persen, salah satu faktor utama yang memengaruhi pola belanja masyarakat saat ini adalah fenomena Fear of Missing Out (FOMO).

FOMO merujuk pada rasa takut tertinggal tren, promo, atau kesempatan tertentu, sehingga mendorong individu melakukan pembelian secara impulsif.

Fenomena ini membentuk sebuah siklus yang berulang. Masyarakat bekerja keras untuk memperoleh penghasilan, kemudian terdorong membelanjakan uangnya karena adanya diskon besar atau tren yang sedang populer. Setelah itu, muncul penyesalan akibat kondisi keuangan yang menurun, hingga akhirnya kembali bekerja keras untuk menutup pengeluaran yang telah dilakukan. Siklus ini terus berulang dan berpotensi melemahkan kesehatan finansial individu dalam jangka panjang.

Data survei Populix menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen masyarakat Indonesia mengaku pernah melakukan belanja impulsif saat berbelanja online. Temuan ini menggambarkan bahwa keputusan pembelian sering kali tidak didasarkan pada kebutuhan yang rasional, melainkan pada dorongan emosional yang muncul secara spontan.

Sebagaimana dijelaskan dalam konten Satu Persen, belanja impulsif umumnya dipicu oleh beberapa faktor utama. Pertama, ketakutan kehilangan promo atau penawaran terbatas yang membuat konsumen merasa harus segera melakukan pembelian. Kedua, pengaruh influencer dan ulasan positif yang menciptakan validasi sosial terhadap suatu produk. Ketiga, adanya ilusi ketersediaan uang, di mana seseorang merasa kondisi keuangannya masih aman, padahal pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali dapat berdampak besar secara akumulatif.

Perilaku konsumtif ini cenderung meningkat pada momen tertentu, salah satunya saat bulan Ramadan. Alih-alih menjadi periode pengendalian diri, Ramadan justru sering diiringi peningkatan konsumsi. Tren Ramadan mendorong masyarakat membeli berbagai produk terbaru, khususnya kebutuhan fesyen untuk Lebaran, demi mengikuti perkembangan mode dan lingkungan sosial.

Selain itu, promo dan diskon bertema Ramadan kerap menjadi jebakan konsumsi. Potongan harga yang terlihat besar sering kali membuat konsumen mengabaikan harga awal produk atau urgensi kebutuhan. Kondisi ini semakin diperparah oleh persepsi terhadap Tunjangan Hari Raya (THR).

Banyak masyarakat memandang THR sebagai “uang tambahan” yang dapat dibelanjakan tanpa perencanaan matang. Padahal, tanpa pengelolaan yang tepat, THR justru habis dalam waktu singkat untuk kebutuhan yang bersifat konsumtif, sementara kewajiban dan kebutuhan jangka panjang tetap menunggu.

Akibat dari pola belanja impulsif ini adalah penggunaan uang yang tidak terarah. Pengeluaran lebih banyak dialokasikan untuk kebutuhan sekunder dan tersier, sementara tabungan, dana darurat, serta perencanaan keuangan jangka panjang justru terabaikan. Setelah momen konsumtif berlalu, masyarakat kerap dihadapkan pada keterbatasan finansial.

Padahal, perilaku belanja impulsif sebenarnya dapat dikendalikan. Salah satu langkah penting adalah memiliki strategi dan perencanaan keuangan yang jelas, terutama menjelang momen dengan tingkat konsumsi tinggi seperti Ramadan dan Lebaran. Kesadaran untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan menjadi kunci dalam menjaga stabilitas keuangan.

Mengelola FOMO bukan berarti menahan diri sepenuhnya dari belanja, melainkan membangun kesadaran dalam mengambil keputusan finansial. Dengan pengelolaan yang bijak, penghasilan dan THR dapat dimanfaatkan secara lebih sehat, terarah, dan berkelanjutan.

Catatan:
Artikel ini di tulis oleh Tim Redaksi dengan melansir dan parafrase dari konten akun edukasi Instagram @satu.persen.

Leave a Comment
error: Content is protected !!
×

 

Hallo Saya Admin Dialogmasa !

Jika Ada Saran, Kritikan maupun Keluhan yuk jangan Sungkan Untuk Chat Kami Lewat Pesan Pengaduan Dibawah ini Ya 

×