Iran Sebagai Poros Tatanan Global Baru

Diary Warda
10 Min Read

Iran Sebagai Poros Tatanan Global Baru

Diary Warda
10 Min Read

SUDUT PANDANG, DIALOGMASA.com – Konflik Iran telah bertransformasi dari sengketa nuklir menjadi perebutan arsitektur kekuasaan global. Tekanan militer Amerika Serikat, respons strategis Teheran, serta keterlibatan aktor regional menegaskan bahwa yang dipertaruhkan melampaui isu kemampuan nuklir. Taruhannya lebih besar. Kendali energi, sistem keamanan, teknologi, serta legitimasi geopolitik kini berada dalam satu ruang perebutan yang sama.

Konflik ini melampaui kerangka krisis bilateral. Perkembangannya mencerminkan pergeseran struktur kekuasaan global dan arah tatanan internasional yang sedang berubah. Yang diperebutkan bukan senjata, melainkan kendali atas arsitektur kekuasaan global.

Salah satu medan paling nyata perebutan tersebut adalah energi, khususnya di Teluk Persia sebagai simpul vital perekonomian dunia.

Energi Global: Asia sebagai Titik Ketergantungan Utama

Selat Hormuz menyalurkan sekitar 18–21 juta barel minyak per hari, hampir 20 persen konsumsi global dan lebih dari 85 persen ekspor minyak negara-negara Teluk. Jalur ini kritis.

Ketergantungan terbesar terhadap energi Teluk berada di Asia. Lebih dari 50 persen impor minyak mentah kawasan Asia, khususnya Tiongkok, India, Jepang, dan Korea Selatan, bersumber dari Timur Tengah. Hingga kini, Kawasan tersebut belum memiliki alternatif pengganti dalam jangka pendek.

Eropa memiliki struktur pasokan energi yang lebih beragam. Sumber energi diperoleh dari Laut Utara, Afrika Utara, Amerika, serta sebelumnya Rusia, sehingga porsi ketergantungan terhadap Teluk relatif lebih kecil dibandingkan Asia.

Stabilitas Iran dan kawasan Teluk, dengan demikian, tidak hanya menentukan keamanan energi Asia, tetapi juga memengaruhi keseimbangan ekonomi global secara lebih luas.

Infrastruktur Militer: Penyangga Stabilitas Kawasan

Keamanan kawasan Teluk ditopang oleh jaringan militer Amerika Serikat yang tersebar di titik strategis, antara lain Bahrain sebagai markas Armada Ke-5, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Oman. Kehadiran tersebut berperan menjaga kelancaran jalur energi dan stabilitas kawasan.

Belanja militer negara-negara Teluk telah melampaui US$100 miliar per tahun, mencerminkan tingginya intensitas kompetisi keamanan di kawasan.

Konflik Iran berada pada persimpangan kepentingan energi dan kekuatan militer global. Infrastruktur tersebut merupakan bagian dari kalkulasi strategis para aktor utama di kawasan.

Peta Aktor: Koalisi Cair, Kepentingan Permanen

Israel memperluas normalisasi hubungan regional untuk membangun arsitektur keamanan dalam menghadapi Iran. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menyeimbangkan kepentingan keamanan dan stabilitas ekonomi domestik melalui kerangka Kesepakatan Abraham. Turki mempertahankan otonomi kebijakan regional sambil tetap berada dalam orbit NATO.

Amerika Serikat mempertahankan dominasi keamanan kawasan. Rusia dan China memperluas pengaruh melalui energi, infrastruktur, dan diplomasi. Di sisi lain, Uni Eropa mendorong stabilitas melalui pendekatan diplomatik dan ekonomi.

Kepentingan para aktor tidak sepenuhnya sejalan. Amerika Serikat cenderung mendorong tekanan maksimum, sementara sebagian negara Eropa memilih pendekatan lebih berhati-hati demi menjaga stabilitas energi. Israel memandang Iran sebagai ancaman eksistensial, sedangkan negara-negara Teluk berupaya menghindari konflik terbuka yang dapat mengguncang stabilitas kawasan. Turki menegaskan otonomi kebijakan regional, sementara NATO mendorong konsolidasi keamanan.

Aliansi kawasan bersifat pragmatis dan berubah mengikuti dinamika kepentingan masing-masing aktor. China bergerak melampaui peran kawasan dan mulai membentuk ulang struktur global.

China: Arsitek Alternatif Sistem Global

Peran China tidak lagi terbatas pada sektor energi. Negara tersebut membangun alternatif dalam sistem ekonomi dan geopolitik global. Melalui Cross-Border Interbank Payment System (CIPS), Beijing mendorong penggunaan yuan dalam perdagangan lintas negara guna mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan Barat.

Kemajuan teknologi di bidang kecerdasan buatan dan jaringan 5G menghadirkan alternatif terhadap dominasi teknologi Barat, sekaligus mengubah lanskap ketergantungan teknologi global.

Melalui Belt and Road Initiative, China mengembangkan jaringan infrastruktur dan logistik lintas kawasan yang memperluas pengaruh melalui konektivitas ekonomi, bukan pendekatan militer langsung. Langkah-langkah tersebut mempercepat pergeseran menuju sistem multipolar, di mana energi, teknologi, dan keuangan tidak lagi terkonsentrasi pada satu pusat kekuatan.

Posisi geografis strategis dan sumber daya energi menempatkan Iran pada peran penting dalam percaturan global. Arah kebijakan global pada akhirnya ditentukan oleh dinamika politik domestik masing-masing negara.

Politik Domestik: Mesin yang Mendorong Kebijakan Luar Negeri

Di Washington, kebijakan terhadap Iran dipengaruhi oleh interaksi antara Gedung Putih, Pentagon, dan jaringan keamanan nasional. Isu nuklir menempati posisi prioritas karena tekanan politik domestik, dinamika siklus pemilu, serta kepentingan industri pertahanan yang memiliki pengaruh kuat dalam perumusan kebijakan keamanan.

Di Iran, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memegang peran sentral dan penyangga dalam bidang keamanan dan ekonomi. Pengaruhnya mencakup sektor energi, konstruksi, serta perdagangan strategis. IRGC berfungsi sebagai penopang stabilitas sistem pemerintahan sekaligus aktor ekonomi dominan yang memiliki jangkauan luas dalam pengambilan keputusan strategis.

Konflik eksternal dalam konteks ini berkontribusi pada penguatan konsolidasi internal di kedua negara.

Aktor Non-Negara: Pengaruh Tanpa Sorotan

Perusahaan energi multinasional, kontraktor pertahanan, serta lembaga keuangan global memainkan peran penting dalam dinamika konflik, meskipun tidak selalu tampil di ruang publik. Ketegangan geopolitik menghadirkan ruang keuntungan yang signifikan bagi aktor-aktor ini.

Volatilitas harga minyak meningkatkan margin dan peluang ekspansi di sektor energi. Eskalasi keamanan membuka ruang kontrak baru bagi industri pertahanan. Stabilitas jalur energi pada akhirnya menentukan arah arus investasi global dan keputusan strategis di pasar internasional.

Pengaruh tersebut bekerja melalui mekanisme sistemik dan kalkulasi ekonomi jangka panjang, bukan melalui retorika politik terbuka. Tekanan eksternal yang berkepanjangan kerap menghasilkan pola yang sama.

Preseden Historis: Pelajaran dari Intervensi

Pengalaman Irak pada 2003 dan Libya pada 2011 memperlihatkan bahwa perubahan rezim kerap diikuti kekosongan kekuasaan dan konflik berkepanjangan yang sulit dikendalikan.

Selama lebih dari empat dekade menghadapi tekanan eksternal, Iran tidak mengalami keruntuhan sistem, melainkan justru memperkuat daya tahan domestik dan konsolidasi internal.

Sejarah menunjukkan bahwa tekanan dapat dengan mudah dimulai, namun jauh lebih sulit dihentikan tanpa konsekuensi jangka panjang.

Strategi Konflik Panjang: Keunggulan Iran

Iran memiliki kapasitas bertahan dalam konflik jangka panjang yang dibangun melalui strategi berbasis jaringan regional melalui Poros Perlawanan. Pendekatan ini bertumpu pada keterhubungan dengan kelompok-kelompok sekutu di berbagai titik strategis, antara lain Hizbullah di Lebanon, jaringan Perlawanan di Suriah dan Irak, serta Ansarullah di Yaman.

Model tersebut memungkinkan tekanan terhadap lawan dijalankan secara berlapis tanpa konfrontasi langsung yang terbuka. Risiko perang langsung ditekan. Pengaruh tetap berjalan. Kondisi tersebut membentuk rangkaian sebab–akibat yang mudah dipetakan dalam dinamika konflik.

Simulasi Sebab–Akibat

Apabila terjadi serangan terbatas, jaringan Poros Perlawanan berpotensi bergerak aktif, ketegangan regional meningkat, jalur energi terganggu, harga minyak terdorong naik, dan dampaknya menjalar ke perekonomian global.

Apabila tekanan meningkat tanpa konfrontasi langsung, konsolidasi internal Iran cenderung menguat, diiringi peningkatan daya tahan terhadap tekanan eksternal.

Apabila Selat Hormuz mengalami gangguan, kawasan Asia akan menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampaknya, disusul meningkatnya tekanan diplomatik di tingkat internasional.

Eskalasi dalam skala terbatas sekalipun berpotensi menghasilkan efek sistemik yang meluas.

Siapa Diuntungkan

Pihak yang memperoleh keuntungan tidak selalu yang paling vokal, melainkan mereka yang memiliki struktur kekuatan jangka panjang dan kemampuan membaca dinamika strategis.

Negara dengan dominasi militer dan diplomasi memperoleh ruang memperkuat posisi tawar. Perusahaan energi dan industri pertahanan mendapatkan peluang ekspansi melalui peningkatan permintaan. Kekuatan yang mampu mengamankan jalur energi memperoleh leverage strategis dalam percaturan global.

Mekanisme keuntungan tersebut tercermin dalam peningkatan anggaran militer, penguatan posisi tawar diplomatik, serta pengamanan pasar energi sebagai instrumen kekuasaan jangka panjang.

Indikator Peringatan Dini

Peningkatan eskalasi dapat tercermin dari beberapa indikator utama, antara lain penambahan aset militer di kawasan Teluk, penerapan sanksi baru terhadap sektor energi Iran, serta meningkatnya aktivitas jaringan Poros Perlawanan di berbagai titik strategis kawasan.

Sebaliknya, konflik berpotensi memasuki fase pembekuan apabila diplomasi Eropa kembali aktif, stabilitas harga minyak menjadi prioritas global, dan tekanan domestik mengalihkan fokus kebijakan di Amerika Serikat maupun Iran.

Arah Waktu: 12–24 Bulan

Dalam dua tahun ke depan, konflik diperkirakan bergerak dalam pola ketegangan terkendali. Situasi tidak mengarah pada perang terbuka, sementara jaringan Poros Perlawanan tetap bertahan dan berpotensi menguat. Kompetisi antara Amerika Serikat, China, dan Rusia kian terbuka, dan aliansi regional semakin pragmatis serta berorientasi pada kepentingan strategis masing-masing.

Variabel penentu mencakup potensi gangguan di Selat Hormuz, kemungkinan serangan terhadap fasilitas nuklir, serta dinamika tekanan ekonomi maksimum Amerika Serikat terhadap Iran.
Tanpa pemicu ekstrem, konflik cenderung berlangsung dalam jangka panjang dengan intensitas yang fluktuatif namun terkendali.

Positioning Strategis

Iran tidak semata merupakan titik konflik regional, melainkan pusat gravitasi dalam perebutan tatanan global multipolar serta pertarungan pengaruh ideologis yang semakin mengemuka.

Energi Teluk menjadi penopang stabilitas ekonomi Asia. Kekuatan militer Barat berperan menjaga keberlangsungan jalur energi. China secara bertahap membangun alternatif dalam bidang teknologi dan sistem keuangan global. Dalam konflik jangka panjang, Iran berpotensi memperkuat posisi regional sekaligus meningkatkan daya tawar strategis.

Kekuatan yang mampu mengelola tekanan terhadap Iran akan memperoleh kendali atas energi, keamanan, dan legitimasi geopolitik.

Penguasaan energi, keamanan, dan teknologi akan menentukan siapa yang membentuk tatanan dunia berikutnya.

Oleh: Muhlisin Turkan
Ketua Departemen Humas, Media, dan Penerangan Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (DPP ABI)

Leave a Comment
error: Content is protected !!
×

 

Hallo Saya Admin Dialogmasa !

Jika Ada Saran, Kritikan maupun Keluhan yuk jangan Sungkan Untuk Chat Kami Lewat Pesan Pengaduan Dibawah ini Ya 

×