LITERASI BISNIS, DIALOGMASA.com – Setiap tahun, Ramadan bukan hanya membawa perubahan dalam pola ibadah dan aktivitas sosial masyarakat, tetapi juga memicu perubahan signifikan dalam dinamika ekonomi nasional. Pola ini berlangsung berulang dan relatif konsisten.
Sebagaimana dilansir dari akun edukasi finansial Ngomongin Uang, Ramadan merupakan periode dengan lonjakan perputaran uang terbesar dalam satu tahun, dipicu oleh pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), peningkatan konsumsi rumah tangga, serta mobilitas masyarakat menjelang Idulfitri.
Fenomena tersebut membentuk sebuah siklus ekonomi musiman yang penting untuk dipahami, agar masyarakat dan pelaku usaha tidak sekadar mengikuti arus, melainkan mampu beradaptasi secara bijak.
Lonjakan Konsumsi dan Inflasi Musiman
Ramadan hampir selalu identik dengan kenaikan harga sejumlah komoditas. Permintaan terhadap bahan pangan, pakaian, transportasi, hingga kebutuhan sekunder meningkat tajam dalam waktu singkat.
Dalam teori ekonomi, kondisi ini dikenal sebagai demand-pull inflation, yaitu inflasi yang didorong oleh lonjakan permintaan. Ketika THR cair dan dibelanjakan secara serentak, daya beli masyarakat melonjak, sementara pasokan barang tidak selalu bertambah dalam kecepatan yang sama. Akibatnya, harga terdorong naik.
Kenaikan ini bersifat musiman. Setelah Lebaran, tekanan permintaan biasanya mereda dan harga cenderung kembali stabil.
Likuiditas Melimpah, Namun Sementara
Ramadan juga menjadi periode distribusi uang tunai terbesar dalam satu waktu. Peredaran uang meningkat tajam karena pembayaran THR dan aktivitas belanja menjelang Lebaran.
Dampaknya terasa luas:
- Omzet ritel dan UMKM naik signifikan.
- Sektor transportasi dan pariwisata mengalami lonjakan permintaan.
- Perputaran uang berpindah dari kota besar ke daerah melalui tradisi mudik.
Namun, likuiditas ini bersifat temporer. Setelah momen Lebaran berlalu, konsumsi biasanya melambat karena sebagian besar dana telah terpakai.
Tekanan Nilai Tukar dan Peningkatan Impor
Peningkatan konsumsi juga mendorong kenaikan impor, baik bahan pangan maupun barang konsumsi lainnya. Kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor dan operasional transportasi meningkat, sementara suplai valas tidak selalu naik sebanding.
Dalam kondisi tertentu, ketidakseimbangan musiman ini dapat memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Meski demikian, pergerakan kurs tetap dipengaruhi berbagai faktor global dan kebijakan moneter.
Euforia Konsumsi dan Risiko Utang
Menariknya, meskipun Ramadan identik dengan pengendalian diri, total pengeluaran rumah tangga sering kali justru meningkat. Belanja takjil, buka puasa bersama, pakaian baru, mudik, hingga renovasi rumah menambah beban pengeluaran.
Di sisi lain, kemudahan akses kredit konsumtif seperti kartu kredit dan layanan buy now pay later (BNPL) ikut mendorong belanja impulsif. Konsumsi tinggi yang tidak diimbangi kenaikan pendapatan permanen berpotensi menimbulkan tekanan finansial setelah Lebaran.
Di sinilah pentingnya literasi keuangan: membedakan antara kebutuhan dan dorongan sesaat.
Fase Pendinginan Pasca-Lebaran
Dua hingga tiga minggu setelah Lebaran, pasar biasanya memasuki fase pendinginan. Permintaan menurun, daya beli melemah, dan sebagian masyarakat mulai membutuhkan likuiditas tambahan.
Beberapa fenomena yang kerap muncul:
Penjualan barang bekas meningkat.
Sektor ritel mengalami perlambatan.
Diskon dan promo pasca-Lebaran bermunculan.
Aset tertentu dijual di bawah harga pasar karena kebutuhan dana cepat.
Bagi sebagian pihak, ini bisa menjadi tekanan. Namun bagi yang memiliki perencanaan dan cadangan dana, fase ini justru menghadirkan peluang.
Cara Beradaptasi Secara Baik
Memahami siklus saja tidak cukup. Adaptasi menjadi kunci agar tidak terjebak euforia.
Bagi individu:
- Alokasikan THR secara proporsional: konsumsi, tabungan, dan dana darurat.
Hindari utang konsumtif untuk kebutuhan non-prioritas. - Waspada terhadap belanja impulsif akibat promo musiman.
-Pertimbangkan pembelian aset setelah periode puncak harga.
Bagi pelaku usaha:
- Manfaatkan momentum Ramadan untuk memperkuat arus kas.
- Hindari penumpukan stok berlebihan menjelang akhir musim.
- Siapkan strategi pasca-Lebaran seperti promo clearance atau bundling.
- Kelola keuangan usaha secara konservatif untuk menghadapi fase perlambatan.
Membaca Pola, Bukan Sekadar Mengikuti Arus
Siklus ekonomi Ramadan bukan fenomena baru. Ia adalah pola struktural yang berulang setiap tahun: lonjakan konsumsi, peningkatan likuiditas, tekanan harga, lalu perlambatan.
Inflasi yang naik bukan selalu tanda ekonomi membaik secara fundamental. Lonjakan transaksi bukan selalu mencerminkan peningkatan kesejahteraan jangka panjang.
Yang membedakan hasil akhirnya adalah kesiapan membaca pola tersebut.
Dengan literasi ekonomi yang memadai, masyarakat tidak hanya menjadi bagian dari gelombang konsumsi musiman, tetapi mampu menentukan sikap secara rasional.
Ramadan tetap menjadi momentum yang produktif, bukan sekadar periode pengeluaran besar tanpa perencanaan.
Memahami siklus, mengelola risiko, dan memanfaatkan peluang secara terukur adalah bentuk adaptasi yang paling bijak dalam menghadapi dinamika ekonomi musiman. (Red)

