BREAKING NEWS, DIALOGMASA.com – Peringatan International Al-Quds Day diwarnai aksi solidaritas untuk Palestina di sejumlah daerah di Indonesia. Di Surabaya, Komite Umat Islam Anti Amerika dan Israel (KUMAIL) menggelar aksi unjuk rasa dan longmarch pada Jumat (13/03/2026).
Aksi yang diikuti sejumlah massa tersebut diisi dengan orasi, pembacaan puisi perjuangan, teatrikal bertema Board of Peace (BoP), serta longmarch di kawasan pusat kota Surabaya. Para peserta juga melantunkan syair-syair perjuangan untuk rakyat Palestina.
Dalam orasinya, Zahir Yahya menegaskan dukungan terhadap perlawanan yang dilakukan Iran serta mengkritik Amerika Serikat dan Israel.
“Slogan rakyat Iran tidak berubah, Tuhan pelindung kami, Khamenei pemimpin kami,” serunya di hadapan massa aksi.
Ia juga menyampaikan bahwa tekanan militer tidak akan mampu menghancurkan bangsa yang memiliki semangat pengorbanan tinggi.
“Amerika tidak bisa berbuat dan menghabisi bangsa yang kesyahidan menjadi mimpi penduduknya,” katanya.

Dalam orasi tersebut, massa juga menyerukan kritik terhadap negara-negara yang mereka sebut mendukung agresi Israel.
“Dengar wahai para negara teroris, hitungan mundur untuk kehancuran kalian sudah dimulai,” ujar Zahir.
Selain menyuarakan dukungan bagi Palestina dan Iran, massa aksi juga menuntut pemerintah Indonesia untuk menarik diri dari Board of Peace (BoP). Mereka menilai keterlibatan Indonesia dalam forum tersebut tidak sejalan dengan prinsip konstitusi dan semangat bangsa yang menolak penjajahan.
“Duduk bersama penjajah tidak sesuai dengan konstitusi dan prinsip bangsa Indonesia,” teriak peserta aksi.
Sementara itu, aksi serupa juga digelar oleh Free Palestine Network (FPN) Pokja Kendari di Bundaran Gubernur Kendari sore ini.
Koordinator FPN Pokja Kendari, Rahmawati, mengatakan aksi tersebut merupakan bagian dari gerakan serentak yang digelar di berbagai daerah di Indonesia.
“Agenda aksi solidaritas ini akan terus kami lakukan selama kemerdekaan bangsa Palestina belum terwujud,” kata Rahmawati.
Ia menilai berbagai bentuk penjajahan modern saat ini tidak hanya terjadi secara militer, tetapi juga melalui ekonomi, politik, dan budaya.
“Penjajahan hari ini bentuknya sangat beragam. Ada upaya penguasaan manusia secara ekonomi, politik, dan kultur,” ujarnya.
Sekretaris Jenderal FPN Pusat, Furqan AMC, menambahkan bahwa dukungan terhadap Palestina juga berkaitan dengan solidaritas terhadap Iran yang dinilai menghadapi agresi militer Israel dan Amerika Serikat.
Menurutnya, serangan terhadap Iran dinilai melanggar Pasal 2 ayat (4) Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang melarang penggunaan kekuatan terhadap kedaulatan suatu negara. Ia juga menyebut Iran memiliki hak membela diri sebagaimana diatur dalam Pasal 51 Piagam PBB.
Melalui aksi tersebut, massa juga mendesak pemerintah Indonesia untuk lebih aktif mendorong dukungan internasional bagi kemerdekaan Palestina serta tetap berpegang pada prinsip politik luar negeri bebas aktif sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945. (AL/WD)

