LITERASI BISNIS, DIALOGMASA.com – Banyak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merasa usahanya berjalan baik karena produk selalu habis terjual. Pesanan datang silih berganti, stok cepat menipis, dan perputaran uang terlihat lancar. Namun ketika menghitung hasil di akhir bulan, keuntungan justru tidak terasa. Bahkan sebagian pelaku usaha mengalami kerugian tanpa disadari.
Kondisi ini bukan disebabkan oleh kurangnya pembeli. Masalahnya sering tersembunyi pada kesalahan mendasar dalam menghitung Harga Pokok Produksi (HPP).
Masih banyak pelaku UMKM yang menentukan harga jual hanya berdasarkan biaya bahan baku. Selama harga jual lebih tinggi dari total belanja bahan mentah, mereka menganggap sudah memperoleh keuntungan. Padahal dalam praktik bisnis, bahan baku hanyalah satu bagian dari keseluruhan biaya produksi.
Ilustrasi sederhana dapat menjelaskan persoalan tersebut. Dalam produksi keripik pisang, misalnya, total biaya bahan baku seperti pisang, minyak, garam, dan bumbu mencapai Rp830.000 untuk 100 kilogram bahan mentah. Setelah melalui proses produksi, terjadi penyusutan dan hanya menghasilkan 40 kilogram produk jadi.
Jika dihitung dari bahan baku saja, HPP terlihat sebesar Rp20.750 per kilogram. Ketika produk dijual Rp25.000 per kilogram, secara kasat mata tampak ada keuntungan.
Namun perhitungan itu belum lengkap.
Biaya tenaga kerja, gas untuk penggorengan, listrik, kemasan, serta biaya penunjang lainnya sering kali tidak dimasukkan dalam kalkulasi. Setelah seluruh komponen tersebut dihitung, total biaya produksi bisa meningkat menjadi Rp1.060.000. Dengan hasil produksi yang sama, HPP sebenarnya mencapai Rp26.500 per kilogram.
Artinya, ketika produk dijual Rp25.000 per kilogram, pelaku usaha justru menjual di bawah biaya produksi. Dagangan memang habis terjual, tetapi setiap kilogram yang terjual sebenarnya membawa kerugian.
Banyak UMKM terjebak pada ilusi perputaran uang. Karena uang masuk setiap hari, usaha terlihat sehat. Padahal tanpa pencatatan biaya yang detail, keuntungan hanyalah asumsi. Kerugian seperti ini sering tidak terasa dalam jangka pendek. Usaha tetap berjalan, produksi terus dilakukan, dan pembelian bahan baku tetap berlanjut. Namun perlahan, modal terkikis.
Ketika harga bahan baku naik atau penjualan sedikit menurun, usaha langsung goyah karena tidak memiliki margin yang cukup untuk menahan tekanan biaya.
Secara sederhana, HPP seharusnya mencakup seluruh komponen biaya produksi: bahan baku, tenaga kerja, biaya overhead seperti gas dan listrik, kemasan, hingga biaya penyusutan alat. Tanpa memasukkan semua komponen tersebut, harga jual berisiko tidak mencerminkan biaya riil produksi.
Selain itu, pelaku usaha juga perlu memperhitungkan margin keuntungan yang wajar untuk keberlanjutan dan pengembangan usaha, bukan sekadar menutup biaya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa tantangan UMKM bukan hanya soal pemasaran atau inovasi produk. Literasi keuangan menjadi fondasi utama keberlanjutan bisnis. Mencatat setiap pengeluaran, menghitung biaya secara menyeluruh, dan mengevaluasi harga jual secara berkala adalah langkah sederhana yang dapat menyelamatkan usaha dari kerugian tersembunyi.
Pada akhirnya, laris bukanlah indikator utama keberhasilan usaha. Keberlanjutan bisnis ditentukan oleh kemampuan membaca angka dengan tepat dan mengambil keputusan berdasarkan perhitungan yang benar.
Karena dalam dunia usaha, yang menentukan bukan sekadar banyaknya barang terjual, melainkan seberapa sehat struktur keuangannya. (Red)

