SUDUT PANDANG, DIALOGMASA.com – Pernah merasa gaji baru saja masuk, tapi belum seminggu sudah terasa menipis? Atau bahkan langsung habis untuk bayar cicilan dan kebutuhan rutin? Jika iya, Anda tidak sendirian. Keluhan seperti ini menjadi cerita umum di banyak rumah tangga.
Di sisi lain, kita juga menyaksikan fenomena yang tampak kontras: sebagian orang semakin kaya, asetnya bertambah, bisnisnya berkembang. Sementara itu, pelaku usaha kecil masih berjuang bertahan, apalagi berkembang. Fenomena ini bukan sekadar perasaan, melainkan realitas ekonomi yang berlangsung cukup lama.
Ketika Gaji Tidak Lagi Cukup
Salah satu penyebab utama gaji cepat habis adalah ketidakseimbangan antara pendapatan dan biaya hidup. Harga kebutuhan pokok, transportasi, pendidikan, hingga perumahan terus naik. Namun kenaikan upah sering kali tidak sebanding.
Inflasi memainkan peran penting di sini. Setiap kenaikan inflasi secara langsung menekan daya beli masyarakat. Artinya, dengan uang yang sama, barang dan jasa yang bisa dibeli semakin sedikit. Kebutuhan dasar seperti pangan, pendidikan, dan kesehatan pun ikut terdampak.
Masalahnya tidak berhenti di situ. Rendahnya literasi keuangan juga memperparah keadaan. Banyak orang belum memiliki dana darurat, belum terbiasa menabung, atau belum memahami pengelolaan utang dengan sehat. Ditambah lagi gaya hidup modern yang konsumtif—dipengaruhi media sosial, kemudahan kredit, dan sistem “bayar nanti”—membuat pengeluaran sering kali didorong oleh keinginan, bukan kebutuhan.
Akhirnya, siklusnya berulang: gaji datang, gaji habis, dan ruang untuk menabung atau berinvestasi nyaris tidak ada.
Mengapa yang Kaya Makin Kaya?
Fenomena “yang kaya makin kaya” bisa dijelaskan melalui akumulasi modal. Orang yang sudah memiliki aset produktif—tanah, properti, saham, atau bisnis—akan terus memperoleh tambahan pendapatan dari aset tersebut. Pendapatan itu kemudian diinvestasikan kembali, sehingga kekayaannya bertumbuh secara berlipat.
Selain modal finansial, ada juga modal sosial dan intelektual. Kelompok berpenghasilan tinggi umumnya memiliki akses lebih baik terhadap pendidikan, jaringan, informasi, dan bahkan pengaruh kebijakan. Dengan akses seperti itu, mereka memiliki peluang jauh lebih besar untuk terus berkembang.
Sebaliknya, masyarakat berpendapatan rendah sering kali terjebak pada kebutuhan jangka pendek. Fokusnya adalah bertahan hidup hari ini. Akibatnya, kesempatan untuk berinvestasi dalam pendidikan, usaha, atau aset produktif menjadi sangat terbatas.
UMKM: Tulang Punggung yang Masih Rapuh
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia. Mereka menyerap tenaga kerja dan menggerakkan ekonomi lokal. Namun kenyataannya, banyak UMKM sulit berkembang.
Menurut data dan kajian, kendala utama UMKM di Indonesia bersifat internal: keterbatasan modal, kualitas sumber daya manusia, persoalan hukum, hingga akuntabilitas. Dari semua itu, dua masalah yang paling sering muncul adalah modal dan SDM.
Keterbatasan modal membuat produksi tidak bisa ditingkatkan. Ketika produksi terbatas, pasar yang dijangkau juga terbatas. Akhirnya, usaha sulit naik kelas. Sementara keterbatasan kemampuan manajerial dan inovasi membuat UMKM sulit bersaing di tengah perubahan pasar yang cepat.
Potensi sebenarnya besar, tetapi tanpa dukungan dan peningkatan kapasitas, potensi itu sulit berkembang maksimal.
Ketika Angka Meningkat, Tapi Realita Belum Tentu
Secara statistik, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia terus meningkat setiap tahun.
Peningkatan IPM menunjukkan adanya kemajuan dalam aspek pendidikan, kesehatan, dan standar hidup. Namun kenaikan angka ini belum sepenuhnya mencerminkan perbaikan kesejahteraan masyarakat berpendapatan rendah.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan pengeluaran riil per kapita mencapai sekitar 12.802.000 dan meningkat sekitar 461.000 dari tahun sebelumnya. Angka tersebut memang naik, tetapi relatif kecil jika dibandingkan dengan tekanan inflasi dan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Artinya, meskipun indikator makro terlihat membaik, banyak rumah tangga masih merasakan jarak antara pendapatan dan kebutuhan hidup.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Permasalahan ini tidak bisa diselesaikan oleh individu saja. Diperlukan peran aktif pemerintah dalam:
- Mengevaluasi kebijakan pengendalian inflasi
- Menyalurkan subsidi secara tepat sasaran
- Memperkuat sektor UMKM melalui inovasi dan peningkatan kapasitas pelaku usaha
- Penguatan UMKM menjadi langkah strategis agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu. – Peningkatan IPM pun tidak hanya menjadi angka statistik, tetapi benar-benar terasa dalam bentuk pendapatan yang lebih baik dan kesejahteraan yang lebih merata.
Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan hanya mengapa gaji cepat habis atau mengapa yang kaya makin kaya.
Pertanyaannya adalah: bagaimana memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar memberi ruang bagi semua orang untuk naik kelas?
Dahlia Najatul KhildaAdministrasi Publik – Universitas Yudharta Pasuruan

