Generasi Z dan PR Finansial: Tampil Kaya, Realitasnya Rentan

Diary Warda
4 Min Read

Generasi Z dan PR Finansial: Tampil Kaya, Realitasnya Rentan

Diary Warda
4 Min Read

ARTIKEL, DIALOGMASA.com – Di era media sosial, kesuksesan kerap diukur dari apa yang terlihat, bukan dari apa yang dimiliki secara nyata. Generasi Z tumbuh dalam ruang digital yang menjadikan gaya hidup sebagai identitas. Instagram dan TikTok bukan lagi sekadar platform berbagi momen, tetapi panggung untuk membangun citra diri.

Di sana, tampil kaya sering kali menjadi standar baru eksistensi. Namun di balik foto estetik, outfit bermerek, liburan mewah, dan gadget terbaru, tersimpan persoalan yang lebih mendasar: pekerjaan rumah (PR) finansial yang belum selesai.

Indonesia memiliki lebih dari 170 juta pengguna media sosial aktif. Rata-rata masyarakat menghabiskan lebih dari tiga jam per hari di ruang digital. Paparan konten gaya hidup mewah secara terus-menerus menciptakan fenomena fear of missing out (FOMO). Perbandingan sosial menjadi tak terhindarkan. Generasi Z—yang sebagian masih berada di usia sekolah hingga awal karier—berhadapan dengan standar kemewahan yang sering kali tidak sebanding dengan kemampuan ekonominya.

Di sinilah letak PR finansial itu. Rata-rata pendapatan generasi muda di awal karier berkisar Rp4–6 juta per bulan. Namun, gaya hidup digital mendorong pengeluaran pada kebutuhan simbolis: fashion cepat, nongkrong di tempat estetik, gadget terbaru, hingga liburan demi konten. Survei menunjukkan sebagian besar pengguna media sosial pernah melakukan pembelian impulsif karena pengaruh influencer. Keputusan konsumsi bukan lagi berbasis kebutuhan, melainkan dorongan validasi sosial.

Kondisi ini diperparah dengan kemudahan akses paylater dan pinjaman online. Fasilitas “beli sekarang, bayar nanti” terasa ringan di awal, tetapi dapat berubah menjadi beban berkepanjangan. Data menunjukkan pertumbuhan signifikan pengguna paylater dan pinjaman daring dalam beberapa tahun terakhir, dengan nilai pembiayaan yang terus meningkat. Artinya, konsumsi generasi muda semakin ditopang oleh utang.

Tampil kaya di media sosial akhirnya tidak selalu mencerminkan kondisi finansial yang sehat. Sebaliknya, di baliknya bisa tersembunyi cicilan yang menumpuk dan tabungan yang minim. Realitasnya rentan.
Kerentanan ini bukan hanya soal angka di rekening, tetapi juga dampak psikologis. Tekanan untuk selalu terlihat “cukup” atau bahkan “lebih” memicu kecemasan ketika kemampuan tidak sejalan dengan ekspektasi. Ketika tagihan datang sementara pemasukan terbatas, stres finansial menjadi konsekuensi nyata. Validasi digital yang sesaat berubah menjadi beban mental yang berkepanjangan.

Lebih jauh lagi, fenomena ini memiliki implikasi sosial yang serius. Indonesia sedang menikmati bonus demografi, di mana populasi usia produktif mendominasi. Generasi Z seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi melalui peningkatan keterampilan, inovasi, dan investasi jangka panjang. Namun jika energi lebih banyak terserap pada konsumsi simbolis, potensi tersebut bisa tergerus.

PR finansial Generasi Z bukan semata tentang kemampuan menghasilkan uang, tetapi tentang kemampuan mengelolanya. Literasi keuangan menjadi kunci. Memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, membangun dana darurat, serta bijak memanfaatkan fasilitas kredit adalah fondasi dasar yang sering kali terabaikan.
Selain itu, peran negara dan platform digital juga penting. Regulasi promosi produk keuangan oleh influencer perlu diperkuat agar tidak menormalisasi utang konsumtif. Kampanye publik harus mulai menggeser narasi kesuksesan—dari pamer kemewahan menuju kemandirian dan ketahanan finansial.

Pada akhirnya, pertanyaan mendasarnya sederhana: apakah kita ingin terlihat kaya, atau benar-benar sejahtera?

Generasi Z memiliki potensi besar untuk menjadi generasi paling adaptif dan inovatif dalam sejarah Indonesia. Namun potensi itu hanya akan terwujud jika mampu menyelesaikan PR finansialnya sendiri.

Tampil sederhana dengan fondasi kuat jauh lebih bernilai daripada terlihat mewah tetapi rapuh. Karena masa depan tidak dibangun dari unggahan, melainkan dari keputusan-keputusan finansial yang bijak hari ini.

Oleh: Anni Iftitachul Faricha
Mahasiswa Administrasi Publik, Universitas Yudharta Pasuruan

Leave a Comment
error: Content is protected !!
×

 

Hallo Saya Admin Dialogmasa !

Jika Ada Saran, Kritikan maupun Keluhan yuk jangan Sungkan Untuk Chat Kami Lewat Pesan Pengaduan Dibawah ini Ya 

×