PASURUAN, DIALOGMASA.com – Kelangkaan sapi lokal di Kabupaten Pasuruan berdampak langsung pada melonjaknya harga daging sapi di pasaran. Kondisi tersebut membuat harga daging sulit kembali ke level normal dan memicu keluhan dari para pedagang.
Pedagang daging menilai peran pemerintah masih belum terlihat signifikan dalam upaya mengatasi kelangkaan sapi lokal maupun melakukan stabilisasi harga. Akibatnya, beban biaya usaha semakin berat seiring naiknya harga bahan baku.
Ketua Paguyuban Pedagang Daging Pasuruan Raya, M. Habibi, menjelaskan bahwa lonjakan harga tidak hanya terjadi pada sapi lokal, tetapi juga merambah pada daging sapi impor.
“Kenaikan harga ini sangat menekan pedagang karena biaya modal terus meningkat. Mau tidak mau, harga jual harus dinaikkan agar usaha tetap bisa bertahan,” ujar Habibi.

Menurutnya, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada daging, tetapi juga pada sapi hidup, baik lokal maupun impor. Untuk sapi impor, harga mengalami kenaikan hingga Rp10.000 per kilogram, dengan harga jual saat ini berkisar antara Rp57.000 hingga Rp65.000 per kilogram bobot hidup, belum termasuk biaya pemotongan dan transportasi.
Sementara itu, harga sapi lokal mengalami kenaikan sebesar Rp3 juta hingga Rp5 juta per ekor. Adapun sapi impor saat ini dijual dengan harga sekitar Rp20 juta hingga Rp25 juta per ekor, tergantung ukuran dan kualitas.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pasuruan, drh. Ainur Alfiyah, menyampaikan bahwa berdasarkan data yang dimiliki, jumlah sapi potong di Kabupaten Pasuruan sebenarnya mencapai lebih dari 90 ribu ekor. Namun, para peternak cenderung menahan penjualan.
“Secara data, jumlah sapi potong di Kabupaten Pasuruan lebih dari 90 ribu ekor. Akan tetapi, peternak memilih menahan sapi untuk digemukkan terlebih dahulu sebagai persiapan Idul Adha,” jelas drh. Ainur Alfiyah, Selasa (6/1/2026).
Ia menambahkan, keputusan peternak tersebut dipengaruhi oleh ketersediaan pakan yang melimpah serta kondisi sapi yang sehat, sehingga dinilai lebih menguntungkan untuk proses penggemukan. Meski demikian, sapi di pasaran sebenarnya masih tersedia, hanya saja dengan harga yang relatif tinggi.
“Biasanya jagal mengambil sapi impor jenis Brahman Cross (BX). Namun saat ini harga sapi BX hidup juga jauh lebih mahal dari biasanya. Akibatnya, harga daging dijual di kisaran Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram agar seimbang dengan biaya modal,” tambahnya.
Menindaklanjuti keluhan pedagang, drh. Ainur Alfiyah didampingi Kepala Bidang Kesehatan Hewan, drh. Panti Absari, turun langsung ke lapangan dengan menemui Ketua Paguyuban Pedagang Daging Pasuruan Raya, M. Habibi, untuk melihat kondisi secara langsung.
Ia menjelaskan bahwa selain faktor penahanan sapi oleh peternak, di Jawa Timur juga terdapat kendala berupa surat edaran atau imbauan Gubernur terkait pembatasan peredaran sapi, khususnya sapi impor.
“Untuk sapi impor di Jawa Timur masih terkendala adanya surat edaran atau imbauan Gubernur terkait pembatasan sapi. Hal ini masih kami komunikasikan dengan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur agar ada kebijakan yang dapat mengurai persoalan ini,” pungkasnya. (Al/Wj)

