Kenapa Banyak UMKM Gagal Meski Produknya Laku? Ini Analisisnya

Diary Warda
3 Min Read

Kenapa Banyak UMKM Gagal Meski Produknya Laku? Ini Analisisnya

Diary Warda
3 Min Read

LITERASI USAHA, DIALOGMASA.com – Produk laku. Pesanan jalan. Uang masuk hampir setiap hari. Namun anehnya, di akhir bulan kas terasa kosong. Bahkan ada yang terpaksa tutup usaha meski penjualan terlihat ramai.

Fenomena ini bukan hal baru di dunia usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Banyak pelaku usaha merasa sudah untung karena produknya terjual, padahal secara hitungan bisnis mereka belum benar-benar menghasilkan laba.

Seperti dilansir dari akun aang.permana, persoalan utamanya sering bukan pada produk, melainkan pada cara menghitung keuntungan.

Laku Bukan Berarti Untung

Ambil contoh sederhana. Sebungkus keripik pisang diproduksi dengan biaya Rp2.700 dan dijual Rp5.000. Secara kasat mata ada selisih Rp2.300. Banyak pelaku usaha langsung menyimpulkan: ini untung.
Padahal, selisih itu baru margin kotor. Ia belum memperhitungkan biaya operasional bulanan seperti:

  • Listrik
  • Air
  • Internet
  • Transportasi
  • Sewa tempat
  • Gaji karyawan

Jika total biaya operasional mencapai Rp2.700.000 per bulan, maka margin Rp2.300 per bungkus belum tentu cukup menutup beban tersebut.

Di Sini Letak Masalahnya

Mari dihitung secara sederhana.
Untuk menutup biaya operasional Rp2.700.000 dengan margin Rp2.300 per produk, diperlukan penjualan sekitar 1.174 bungkus per bulan. Jika dibagi rata 30 hari, berarti minimal sekitar 40 bungkus per hari harus terjual agar usaha mencapai titik impas (Break Even Point).

Artinya, jika penjualan hanya 20–30 bungkus per hari, usaha tersebut sebenarnya masih merugi — meskipun setiap transaksi terlihat menghasilkan selisih.

Inilah yang disebut sebagai ilusi margin: merasa untung karena ada selisih harga, padahal secara total belum menutup biaya tetap.

Kesalahan Umum UMKM

Ada beberapa pola yang sering terjadi:
Menghitung keuntungan hanya dari selisih harga jual dan biaya produksi.

  • Tidak mencatat biaya operasional secara detail.
  • Tidak memiliki target penjualan harian berbasis angka.
  • Mencampur uang usaha dengan kebutuhan pribadi.

Akibatnya, pelaku usaha tidak menyadari bahwa volume penjualan mereka belum cukup untuk menopang operasional bulanan.

Masalahnya Bukan di Produk

Sering kali produk UMKM sebenarnya bagus dan diminati pasar. Rasanya enak, kemasannya menarik, bahkan sudah punya pelanggan tetap. Namun tanpa perhitungan keuangan yang tepat, bisnis tetap bisa goyah.

Bisnis bukan hanya soal produk dan penjualan. Ia juga soal angka dan disiplin menghitung.

Alih-alih bertanya “Untungnya berapa per bungkus?”, pelaku usaha seharusnya mulai bertanya:

  • Berapa minimal harus terjual setiap hari agar impas?
  • Apakah kapasitas produksi mampu memenuhi target tersebut?
  • Apakah harga perlu disesuaikan?
  • Apakah biaya operasional bisa ditekan?

Literasi Keuangan Menjadi Kunci

Banyak UMKM gagal bukan karena tidak laku, tetapi karena tidak menghitung. Tanpa memahami titik impas, pelaku usaha berjalan tanpa kompas.

Menghitung Break Even Point bukan teori rumit. Ia adalah alat sederhana untuk memastikan usaha benar-benar sehat secara finansial.

Karena pada akhirnya, bisnis yang bertahan bukan hanya yang produknya laku — tetapi yang pemiliknya paham cara membaca angka. (Red)

Leave a Comment
error: Content is protected !!
×

 

Hallo Saya Admin Dialogmasa !

Jika Ada Saran, Kritikan maupun Keluhan yuk jangan Sungkan Untuk Chat Kami Lewat Pesan Pengaduan Dibawah ini Ya 

×