SUDUT PANDANG, DIALOGMASA.com – Media sosial tidak hanya mengubah cara orang berkomunikasi. Ia juga diam-diam mengubah cara orang menghabiskan uang.
Jika dulu keputusan membeli sesuatu lebih banyak ditentukan oleh kebutuhan dan kemampuan finansial, kini pertimbangannya jauh lebih kompleks. Algoritma, influencer, tren global, hingga standar gaya hidup digital ikut membentuk preferensi konsumsi. Apa yang muncul di layar ponsel sering kali lebih menentukan daripada apa yang benar-benar kita butuhkan.
Digitalisasi dan globalisasi mempercepat perubahan ini. Transaksi menjadi serba mudah—cukup lewat ponsel, tanpa uang tunai, tanpa harus datang ke toko. Namun kemudahan tersebut bukan hanya soal teknis pembayaran. Ia juga memengaruhi cara berpikir. Konsumsi tidak lagi sekadar aktivitas ekonomi, tetapi menjadi bagian dari pembentukan identitas.
Riset menunjukkan bahwa sekitar separuh konsumen Indonesia mempertimbangkan rekomendasi di media sosial sebelum membeli produk. Artinya, keputusan ekonomi kini banyak dipengaruhi oleh opini digital. Ulasan, endorsement, dan konten gaya hidup menciptakan standar baru tentang apa yang dianggap “layak dimiliki”.
Di titik inilah terjadi pergeseran penting: dari rasionalitas ekonomi menuju rasionalitas simbolik.
Barang tidak lagi dinilai semata dari fungsinya, tetapi dari makna sosialnya. Sepatu bisa menjadi simbol kelas. Gadget menjadi representasi status. Liburan menjadi penanda keberhasilan. Konsumsi berubah menjadi bahasa sosial—cara menunjukkan siapa diri kita dan di mana posisi kita.
Fenomena flexing memperkuat kecenderungan ini. Pamer pencapaian, kekayaan, atau gaya hidup menjadi bagian dari budaya digital. Pengakuan sosial hadir dalam bentuk likes, komentar, dan jumlah pengikut. Dalam konteks ini, nilai sebuah barang sering kali lebih ditentukan oleh seberapa kuat ia membangun citra, bukan seberapa besar manfaatnya.
Masalahnya, standar yang dibentuk media sosial tidak selalu sejalan dengan realitas ekonomi setiap orang.
Tekanan untuk terlihat berhasil dapat mendorong pengeluaran yang melampaui kapasitas finansial. Generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan karena mereka hidup dalam ekosistem digital yang terus menampilkan simbol kesuksesan—rumah di usia muda, kendaraan pribadi, bisnis mapan, perjalanan ke luar negeri.
Ketika ekspektasi sosial lebih tinggi daripada kemampuan ekonomi, batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi kabur. Konsumsi tidak lagi didorong oleh kebutuhan nyata, melainkan oleh dorongan untuk menyesuaikan diri dengan standar sosial yang dikonstruksikan secara digital.
Di satu sisi, fenomena ini mendorong pertumbuhan ekonomi digital. Perdagangan daring berkembang pesat. UMKM memperoleh ruang promosi baru. Perputaran uang semakin cepat. Namun di sisi lain, muncul risiko kerentanan finansial, meningkatnya materialisme, serta tekanan sosial yang tidak kecil.
Karena itu, konsumsi di era media sosial tidak bisa dipahami hanya sebagai persoalan pilihan individu. Ia adalah hasil konstruksi sosial—dibentuk oleh algoritma, budaya populer, relasi kuasa, dan dinamika ekonomi global. Cara orang menghabiskan uang hari ini adalah cerminan dari bagaimana mereka memaknai identitas, pengakuan, dan posisi sosial.
Media sosial memang mengubah cara orang menghabiskan uang. Pertanyaannya, apakah kita menyadari perubahan itu—atau justru sedang dikendalikan olehnya?
Kesadaran kritis menjadi penting. Sebab pada akhirnya, stabilitas finansial tidak ditentukan oleh seberapa menarik tampilan di layar, tetapi oleh seberapa rasional keputusan yang diambil dalam kehidupan nyata.
Oleh: Muhammad Caroin, Mahasiswa Administrasi Publik UYP

