PASURUAN, DIALOGMASA.com – Pemerintah berencana memperketat larangan impor pakaian bekas ilegal guna melindungi industri garmen dalam negeri. Langkah ini ditegaskan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di tengah maraknya peredaran pakaian bekas impor berharga murah yang dinilai menekan produsen lokal.
Dilansir dari CNA, Purbaya menegaskan akan memperkuat pengawasan terhadap masuknya pakaian bekas ilegal dari luar negeri. Ia menyebut, praktik tersebut telah merugikan pelaku industri garmen nasional yang harus bersaing dengan produk impor berharga sangat rendah.
Rencana pengetatan larangan impor pakaian bekas sebenarnya telah disampaikan Purbaya sejak November tahun lalu. Saat itu, ia menginstruksikan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk bertindak lebih tegas dalam mencegah masuknya pakaian bekas ilegal ke pasar domestik.
Larangan impor pakaian bekas sendiri telah diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 40 Tahun 2022. Namun dalam praktiknya, produk pakaian impor bekas dengan harga sangat murah masih banyak beredar di pasaran, sehingga membuat pelaku usaha garmen dalam negeri semakin terhimpit.
Untuk memperkuat aturan tersebut, Purbaya berjanji akan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) baru. Regulasi ini nantinya akan memuat sanksi yang lebih tegas, mulai dari denda hingga pencabutan izin impor bagi pihak yang melanggar.
Menanggapi kebijakan tersebut, salah satu pengusaha konveksi asal Gempol Pasuruan, Ibu Is, mengaku belum merasakan dampak langsung dari pengetatan larangan impor pakaian bekas ilegal.
“Masih belum kelihatan,” ujarnya kepada dialogmasa, Kamis (5/2/2026).
Meski demikian, ia meyakini kebijakan tersebut akan memberikan efek positif dalam jangka panjang. “Pelan-pelan pasti ada dampaknya,” imbuhnya.
Ia juga menyatakan dukungannya terhadap langkah pemerintah. Menurutnya, industri garmen lokal sebenarnya mampu bersaing dari sisi harga, asalkan bahan baku dapat diperoleh dengan harga yang terjangkau.
“Setuju dengan kebijakan ini. Barang impor bisa murah mungkin karena bahan bakunya memang murah. Kalau bahan baku kita juga murah, kita juga bisa jual murah,” pungkasnya. (AL/WD)

