SUDUT PANDANG, DIALOGMASA.com – Pemberitaan masif mengenai protes di Iran merupakan bagian dari perang media yang dilancarkan Amerika Serikat terhadap negara tersebut. Strategi ini menjadi bagian dari pendekatan soft power yang bertujuan melemahkan legitimasi negara melalui pembentukan opini publik global.
Isu protes di Iran kerap dibingkai secara berlebihan, seolah mencerminkan penolakan menyeluruh terhadap sistem politik yang berlaku. Padahal, secara empiris, banyak protes tersebut dipicu oleh tekanan ekonomi—terutama inflasi dan depresiasi mata uang—yang berdampak langsung pada kalangan pebisnis (bazari) sebagai tulang punggung ekonomi domestik Iran.
Namun demikian, narasi regime change yang terus direproduksi oleh media pro-Amerika Serikat kerap mengabaikan fakta penting bahwa Iran merupakan negara dengan peradaban politik dan sosial yang kokoh. Negara ini berakar pada sejarah ribuan tahun, memiliki institusi negara yang mapan, serta ditopang oleh identitas nasional yang kuat. Struktur sosial Iran tidak bersifat rapuh dan tidak mudah digerakkan oleh tekanan opini eksternal.
Mayoritas rakyat Iran, meskipun bersikap kritis terhadap kebijakan ekonomi pemerintah, tetap mampu membedakan antara ketidakpuasan domestik dan intervensi asing. Hal ini terutama berlaku terhadap Amerika Serikat, yang memiliki rekam jejak panjang dalam penerapan sanksi dan tekanan politik terhadap Iran. Kesadaran historis ini menjadi faktor penting dalam membentuk sikap publik Iran terhadap dinamika politik internal maupun eksternal.
Dukungan mayoritas rakyat terhadap keberlangsungan negara—yang tidak berarti meniadakan kritik—menjadi faktor kunci yang membuat Iran mampu bertahan dari serangan lunak (soft warfare) Amerika Serikat, baik melalui media, sanksi ekonomi, maupun perang narasi. Upaya menanamkan ketidakpercayaan di kalangan bazari dan kelas menengah justru sering berhadapan dengan kesadaran kolektif bahwa tekanan eksternal tersebut bertujuan melemahkan kedaulatan nasional.
Dalam konteks ini, perang media Amerika Serikat tidak hanya gagal menggoyahkan fondasi negara Iran, tetapi dalam banyak kasus justru memperkuat solidaritas internal sebagai respons terhadap ancaman eksternal.
Penulis: Abdullah, Dosen HI UB Malang

