Webinar Internasional Bahas Citra Iran di Media, Perkuat Literasi dan Iran Corner FISIP UB

Diary Warda
3 Min Read

Webinar Internasional Bahas Citra Iran di Media, Perkuat Literasi dan Iran Corner FISIP UB

Diary Warda
3 Min Read

MALANG, DIALOGMASA.com – Webinar internasional bertema “Iran di Balik Pemberitaan Media: Fakta Lapangan dan Narasi Barat” digelar secara daring melalui Zoom Meeting pada Kamis (15/1/2025).

Kegiatan ini digelar oleh Iran Corner FISIP Universitas Brawijaya (UB) bersama Islamic Culture and Relations Organization (ICRO) Jakarta sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi media di kalangan akademisi dan masyarakat.

Webinar menghadirkan dua narasumber utama, yakni Syed Muhammad Mehdi, pakar strategi media internasional sekaligus Chairman Institute of International Relations and Media Research Pakistan, serta Dr. Dina Y. Sulaeman, pengamat Timur Tengah dan dosen Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran. Diskusi dimoderatori oleh Abdullah, S.Sos., M.Hub.Int, dosen FISIP UB.

Dalam pemaparannya, Dr. Dina Sulaeman menilai pemberitaan media Barat tentang Iran sering tidak utuh dan cenderung membangun citra negatif.

“Banyak media internasional menyederhanakan persoalan Iran dan hanya menampilkan sisi yang sesuai kepentingan politik tertentu. Akibatnya, publik sulit melihat realitas yang sebenarnya terjadi di lapangan,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya literasi media agar masyarakat tidak mudah menerima informasi secara mentah. Dina juga menyinggung bahwa Iran memiliki banyak capaian di bidang teknologi, kesehatan, dan pendidikan yang jarang diberitakan.

“Kita perlu lebih kritis membaca berita global, karena di balik narasi selalu ada kepentingan,” tambahnya.

Sementara itu, Syed Muhammad Mehdi menyoroti kuatnya intervensi Amerika Serikat di Timur Tengah pasca Arab Spring. Menurutnya, campur tangan tersebut sering bertentangan dengan prinsip kedaulatan negara.

“Tekanan terhadap Iran tidak bisa dilepaskan dari kepentingan geopolitik. Narasi di media kerap digunakan untuk membenarkan intervensi,” katanya.

Mehdi juga menjelaskan kebijakan pemutusan internet di Iran yang sering dikritik media Barat.

“Itu adalah langkah keamanan nasional untuk mencegah eskalasi kerusuhan dan melindungi warga. Banyak negara melakukan kebijakan serupa dalam situasi darurat,” jelasnya.

Ia mendorong negara-negara Muslim seperti Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan Turki agar berperan sebagai jembatan dialog antara Iran dan Amerika Serikat.

Dari pihak Iran, Dr. Yahya Jahan Giri, Konselor Kebudayaan Iran, menyampaikan bahwa tekanan ekonomi yang memicu sebagian protes masyarakat tidak lepas dari sanksi Amerika Serikat dan sekutunya.

“Blokade ekonomi berdampak langsung pada kehidupan warga. Namun pemerintah tetap berupaya menjaga stabilitas dan melindungi kepentingan nasional,” tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa penanganan demonstrasi dilakukan sesuai aturan hukum.

“Dalam sejumlah kasus, aparat kepolisian bahkan menjadi korban karena ada demonstran yang menggunakan senjata. Fakta ini jarang muncul di media internasional,” ungkapnya.

Pada penutup kegiatan, moderator Abdullah menyampaikan bahwa webinar ini menjadi langkah penting bagi penguatan Iran Corner FISIP UB.

“Kegiatan ini bukan sekadar diskusi, tetapi bagian dari diplomasi akademik untuk menghadirkan perspektif yang lebih berimbang tentang Iran dan Timur Tengah,” katanya.

Webinar diikuti secara antusias oleh dosen, mahasiswa, serta peserta dari kalangan NGO dan organisasi keagamaan. Forum ini diharapkan menjadi pijakan untuk membangun diskursus yang lebih objektif dan mudah dipahami publik mengenai isu Iran. (AL/WD)

Leave a Comment
error: Content is protected !!
×

 

Hallo Saya Admin Dialogmasa !

Jika Ada Saran, Kritikan maupun Keluhan yuk jangan Sungkan Untuk Chat Kami Lewat Pesan Pengaduan Dibawah ini Ya 

×