ARTIKEL, DIALOGMASA.com – Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) sejak lama menjadi rujukan utama umat Islam dalam memahami ajaran agama secara seimbang, moderat, dan berkesinambungan. Untuk memperkuat kembali nilai-nilai tersebut, PC Aswaja NU Center Kabupaten Pasuruan (ASNUTER) menyelenggarakan Seminar Nasional Aswaja dengan menghadirkan Prof. Dr. Ali Maschan Moesa, M.Si. sebagai narasumber. Seminar bertema “Meneguhkan Moderasi Ahlussunah Waljamaah dalam Kebinekaan” ini digelar pada Rabu, 3 Desember 2026, bertempat di Hotel Dalwa dan dihadiri para pengurus NU.
Ketua Aswaja NU Center Kabupaten Pasuruan, K.H. Lutfil Hakim, dalam sambutannya menegaskan pentingnya forum semacam ini sebagai ruang penyegar pemahaman Aswaja di tengah derasnya pergeseran wacana keagamaan. Baginya, kegiatan seperti ini menjadi sarana untuk kembali menguatkan identitas moderasi yang telah lama menjadi ciri khas warga NU.
Wakil Rektor UII Dalwa, Ustadz Dr. Samsul Huda, yang hadir sebagai tuan rumah, menyampaikan kebanggaannya karena Hotel Dalwa menjadi lokasi penyelenggaraan kegiatan intelektual tersebut. Ia berharap, kerja sama dan sinergi antara lembaga pendidikan dan struktur organisasi NU dapat terus terjalin.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua PCNU Kabupaten Pasuruan, K.H. Imron Mutamakkin, menyinggung maraknya perdebatan keagamaan di era sekarang. Menurutnya, perdebatan yang mengemuka sering kali hanya berada pada wilayah furū‘iyah bahkan menyentuh perkara mujma‘ ‘alaih, yaitu persoalan yang telah disepakati para ulama. “Inilah yang kini banyak diserang oleh kelompok sebelah,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa aspek paling mendasar dalam agama, yakni Ushuluddin, juga tak lepas dari upaya penyimpangan.
Pada sesi inti seminar, Prof. Dr. Ali Maschan Moesa menghadirkan perspektif historis yang menarik mengenai istilah Aswaja. Ia menegaskan bahwa istilah Aswaja bukan pertama kali dicetuskan oleh Abul Hasan al-Asy‘ari, sebagaimana lazim dipahami dalam literatur klasik dan kontemporer.
“Istilah Aswaja dicetuskan oleh Rasulullah sendiri,” tegasnya, menegaskan bahwa akar Aswaja jauh lebih awal dan bersumber langsung dari tradisi kenabian.
Melalui kegiatan ini, para peserta diajak memahami kembali jejak istilah Aswaja sekaligus relevansi nilai moderasi dalam kehidupan berbangsa yang majemuk.
Moderasi bukan sekadar cara pandang, tetapi jalan panjang peradaban yang menuntun umat Islam untuk menjaga harmoni, menghindari ekstremisme, serta memperkuat peran Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. (ROIB/Wj)

