Muhammad Khikam Firdausy
Administrasi Publik – Universitas Yudharta Pasuruan
Semester 3
Pendahuluan
Banyak orang bekerja keras dari pagi hingga malam, namun kondisi keuangan tidak kunjung membaik. Gaji habis sebelum akhir bulan, tabungan sulit terkumpul, dan masa depan terasa tidak pasti. Fenomena “kerja keras tapi tetap miskin” ini bukan semata-mata disebabkan oleh rendahnya pendapatan, tetapi sering kali berakar pada rendahnya literasi keuangan. Tanpa pemahaman yang baik tentang pengelolaan uang dan investasi, kerja keras tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan finansial.
Pembahasan
Kerja Keras tapi Tetap Miskin: Minim Literasi
Kerja keras adalah hal yang mulia dan merupakan awal dari kesuksesan. Namun, kerja keras tidak selalu sama dengan kesuksesan. Tidak semua orang yang bekerja keras pasti sukses. Dunia ini tidak selalu bekerja dengan adil; ada orang yang bekerja keras seumur hidup dari pagi sampai malam, tetapi tetap tidak kaya. Sebaliknya, orang yang tidak bekerja keras tentu juga tidak akan sukses. Yang membuat seseorang kaya bukan hanya kerja keras, melainkan kerja cerdas, kerja benar, dan kerja dengan hikmat pada waktu yang tepat.
Banyak orang bekerja keras, tetapi berada dalam sistem yang salah, dengan pola pikir yang keliru dan strategi yang tidak tepat. Kesalahan berpikir sering terjadi ketika seseorang hanya mendengarkan ahli finansial tentang cara mengatur uang, tanpa mempelajari cara menghasilkan uang. Yang seharusnya dibenahi terlebih dahulu adalah pemahaman tentang cara meningkatkan penghasilan, yaitu dengan meningkatkan keterampilan, membangun nilai diri (value), dan mengembangkan personal branding.
Ketika seseorang berhasil membangun nilai dirinya, secara tidak langsung akan ada pihak lain yang tertarik untuk melakukan pertukaran nilai. Semakin berkualitas nilai yang dimiliki, semakin besar pula potensi penghasilan yang diperoleh. Setelah hal tersebut tercapai, barulah langkah selanjutnya adalah mempelajari cara mengatur keuangan dengan baik.
Beberapa faktor yang menyebabkan seseorang tidak berkembang antara lain tidak adanya perencanaan keuangan, terjebak dalam rat race, serta terlalu banyak memiliki utang konsumtif. Akibatnya, individu tersebut menjadi stagnan. Pengelolaan keuangan seharusnya dilakukan melalui perencanaan keuangan yang baik, pengendalian perilaku konsumtif, pembedaan antara kebutuhan dan keinginan, serta pembiasaan menabung dan memahami investasi. Literasi keuangan yang baik juga mendorong individu untuk mengelola kredit secara bijak dan menggunakan teknologi keuangan secara terkontrol, sehingga pencatatan dan evaluasi pengeluaran menjadi kunci dalam menjaga stabilitas keuangan pribadi (Distian et al., 2024).
Investasi Saham, Kripto, atau Kerja Nyata
Setelah mampu menghasilkan dan mengelola uang, langkah selanjutnya adalah mengembangkan aset melalui investasi. Di era digital, pilihan antara investasi saham, kripto, atau “kerja nyata” (seperti membangun bisnis atau karier) menjadi perdebatan yang cukup panas. Tidak ada satu pilihan yang paling benar secara mutlak; semuanya bergantung pada profil risiko, tujuan, dan tingkat literasi keuangan masing-masing individu.
Data Tren Investasi di Indonesia
Literasi Keuangan
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK tahun 2022 menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan mencapai 49,68% (naik dari 38,03% pada tahun 2019), sedangkan inklusi keuangan mencapai 85,10% (naik dari 76,19%). Data ini menunjukkan bahwa akses terhadap produk keuangan cukup tinggi, tetapi pemahaman masyarakat masih relatif rendah, sehingga banyak yang terjebak dalam risiko investasi (Indeks et al., 2022).
Saham vs Kripto
Saham cenderung lebih stabil karena berbasis pada fundamental perusahaan, memiliki volatilitas sedang, dan berada di bawah regulasi ketat Bursa Efek Indonesia (BEI). Sementara itu, kripto menawarkan potensi imbal hasil yang tinggi—misalnya Bitcoin yang pernah naik hingga 200% pada periode tertentu—namun memiliki volatilitas yang sangat ekstrem dan sangat dipengaruhi oleh sentimen global tanpa underlying bisnis yang kuat. Studi menunjukkan bahwa kripto memiliki rata-rata return lebih tinggi (20,48%), tetapi juga memiliki risiko yang jauh lebih besar dibandingkan saham (1,2%) (Barry & Bakar, 2022; Sudibyo, 2018).
Kerja Nyata/Bisnis
Membangun bisnis memberikan kontrol penuh dan potensi keuntungan jangka panjang, tetapi membutuhkan modal, keterampilan, dan ketekunan. UMKM menyumbang sekitar 60% terhadap PDB Indonesia, namun banyak yang gagal karena kurangnya literasi keuangan.
Perbandingan Risiko dan Return
| Instrumen | Potensi Return | Volatilitas | Regulasi | Cocok Untuk |
|---|---|---|---|---|
| Saham | Sedang (5–15% tahunan) | Sedang | Tinggi (OJK/BEI) | Jangka panjang, pemula |
| Kripto | Tinggi (>50%) | Sangat tinggi | Sedang (Bappebti) | Spekulatif, berisiko tinggi |
| Bisnis | Variabel (20–100%+) | Tinggi | Rendah | Pengusaha visioner |
Penutup
Kerja keras saja tidak cukup untuk mencapai kesejahteraan finansial tanpa didukung oleh literasi keuangan yang baik. Pemahaman tentang cara menghasilkan, mengelola, dan mengembangkan keuangan melalui perencanaan serta investasi yang tepat sangat diperlukan. Dengan literasi keuangan yang memadai, individu diharapkan mampu bekerja lebih cerdas dan mengambil keputusan finansial yang bijak demi mencapai kestabilan ekonomi di masa depan.
Daftar Pustaka
Barry, S., & Bakar, A. A. (2022). Analisis kelayakan investasi pada cryptocurrency sebagai alternatif investasi, 10–20.
Distian, M., Hermawan, A., Septiani, D., Tinggi, S., Ekonomi, I., & Palembang, A. (2024). Literasi Keuangan dan Dampaknya terhadap Perilaku Keuangan Mahasiswa, 16(3), 187–196.
Indeks, P., Keuangan, L., Gender, B., & Kelamin, J. (2022). Siaran Pers Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan Tahun 2022, November, 10–12.
Sudibyo, D. W. (2018). Analisis Perbandingan Return dan Risk antara Cryptocurrency dan Saham di Indonesia, 71–75.

