PASURUAN, DIALOGMASA.com – Harga emas kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa setelah melonjak hingga Rp167.000 per gram pada Minggu malam, 1 Februari 2026. Meski sempat menguat tajam, pergerakan harga emas pada awal pekan ini terpantau mulai terkoreksi seiring dinamika pasar Asia.
Praktisi ekonomi dan bisnis emas asal Pasuruan, Inayah Tholib, menyebut koreksi harga tersebut masih bersifat sementara dan sangat dipengaruhi oleh pergerakan pasar global, terutama saat pasar Eropa dan Amerika Serikat dibuka.
“Pagi ini memang turun lagi di Pasar Asia, kemungkinan besok turun. Tapi dilihat dulu pergerakan hari ini terutama saat pasar Eropa dan Amerika dibuka,” ujar Inayah kepada dialogmasa Senin (2/2/2026).
Ia menjelaskan, kenaikan harga emas dalam beberapa waktu terakhir tidak terlepas dari meningkatnya permintaan global. Emas dan perak kembali diburu sebagai aset lindung nilai di tengah kondisi geopolitik yang belum stabil, potensi konflik bersenjata, serta tekanan ekonomi dunia berupa resesi dan inflasi tinggi.
“Saat kondisi dunia tidak pasti dan kepercayaan terhadap mata uang menurun, emas dan perak menjadi pilihan utama sebagai daya lindung nilai,” jelasnya.
Selain faktor permintaan, lonjakan harga emas juga dipicu oleh terbatasnya pasokan. Inayah mengungkapkan, stok emas domestik semakin langka karena banyak tambang lokal telah dikuasai investor asing. Di sisi lain, produksi emas nasional sempat terganggu akibat terhentinya pasokan bahan baku dari Freeport yang sebelumnya menjadi sumber utama PT Aneka Tambang (Antam).
Berkurangnya bahan baku di tengah permintaan yang terus meningkat membuat harga emas terdorong naik signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Tak hanya itu, kekhawatiran masyarakat terhadap isu gangguan sistem digital, seperti potensi terputusnya jaringan internet dan listrik dalam skala besar, turut mendorong minat masyarakat untuk menyimpan aset dalam bentuk emas fisik.
Pergerakan harga emas juga dipengaruhi kebijakan ekonomi Amerika Serikat, terutama terkait perang dagang dan kebijakan tarif. Ketika tarif meningkat, biaya operasional perusahaan ikut naik dan berdampak pada penurunan kinerja saham, sehingga investor cenderung mengalihkan dananya ke emas.
Namun, Inayah mencatat bahwa penurunan harga emas yang terjadi pada Sabtu lalu dipicu oleh dibatalkannya kebijakan shutdown di Amerika Serikat, yang mendorong aksi jual oleh sebagian pemilik emas.
“Ketika harga sudah cukup rendah, biasanya investor akan masuk kembali untuk membeli, sehingga harga berpotensi naik lagi,” pungkasnya. (AL/WD)

