Menakar Pergeseran Rasionalitas Ekonomi Menuju Rasionalitas Simbolik di Era Media Sosial

Diary Warda
5 Min Read

Menakar Pergeseran Rasionalitas Ekonomi Menuju Rasionalitas Simbolik di Era Media Sosial

Diary Warda
5 Min Read

Muhammad Caroin
Administrasi Publik – Universitas Yudharta Pasuruan


A. PENDAHULUAN

Digitalisasi dan globalisasi telah mengubah pola konsumsi masyarakat modern. Konsumsi tidak lagi sekadar bertujuan memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga menjadi sarana pembentukan identitas, simbol status, dan ekspresi diri. Perubahan ini turut tercermin dalam peralihan transaksi dari sistem konvensional menuju transaksi berbasis digital (Nugroho, 2017). Digitalisasi konsumsi tidak hanya mempermudah akses terhadap barang dan jasa, tetapi juga menggeser cara individu menentukan preferensi konsumsi.

Media sosial berperan penting dalam proses tersebut. Riset Tri Hendro Sigit Prakoso dan Vicky Nathasya (2022) menunjukkan bahwa sekitar 50% konsumen Indonesia dipengaruhi oleh rekomendasi di media sosial sebelum melakukan pembelian. Kondisi ini menandai pergeseran gaya hidup masyarakat yang semakin dipengaruhi oleh tren global dan figur influencer, bukan semata oleh kebutuhan fungsional.

Fenomena ini mencerminkan dinamika sosial yang kompleks, ditandai oleh budaya flexing, tekanan gaya hidup, serta kaburnya batas antara kebutuhan dan keinginan. Meskipun dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, pola konsumsi semacam ini berisiko memicu perilaku konsumtif yang memperdalam ketimpangan sosial dan meningkatkan kerentanan finansial, terutama di kalangan generasi muda. Oleh karena itu, kajian ini penting untuk memahami pola, pendorong, serta implikasi sosial-ekonomi dari gaya hidup masyarakat kontemporer.


B. PEMBAHASAN

Perkembangan pola konsumsi masyarakat kontemporer dipengaruhi oleh konstruksi sosial yang terbentuk melalui media digital dan interaksi virtual. Salah satu manifestasinya adalah budaya flexing. Praktik ini menempatkan konsumsi sebagai simbol status dan legitimasi sosial, di mana nilai suatu barang ditentukan oleh makna dan pengakuan sosial, bukan semata oleh fungsi utilitarian. Fenomena ini terutama menonjol di kalangan generasi muda.

Secara sosial, budaya flexing berpotensi memperlebar kesenjangan melalui penonjolan kepemilikan materi yang mendorong pergeseran nilai ke arah materialisme. Twenge dan Campbell (2009) menunjukkan bahwa peningkatan materialisme pada generasi muda berkorelasi dengan menurunnya empati serta meningkatnya kecenderungan narsistik.

Kondisi tersebut berkontribusi pada semakin kaburnya batas antara konsumsi berbasis kebutuhan dan perilaku konsumtif. Kebutuhan yang bersifat esensial kerap tersisihkan oleh dorongan untuk mengikuti tren dan standar gaya hidup yang dikonstruksikan secara sosial. Media sosial berfungsi sebagai medium normalisasi konsumsi berlebihan, di mana preferensi individu dibentuk melalui eksposur berulang terhadap konten promosi, influencer, dan representasi gaya hidup ideal.

Akibatnya, keputusan konsumsi mengalami pergeseran dari rasionalitas ekonomi menuju rasionalitas simbolik dan sosial. Konsumsi tidak lagi berbasis pada kebutuhan nyata, melainkan didorong oleh keinginan untuk memperoleh pengakuan dan menyesuaikan diri dengan ekspektasi sosial.

Tekanan untuk mempertahankan gaya hidup tertentu menimbulkan beban ekonomi yang signifikan. Individu, khususnya generasi muda, menjadi rentan terhadap kerentanan finansial akibat pengeluaran yang tidak sebanding dengan kapasitas ekonomi mereka. Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya memengaruhi pola konsumsi, tetapi juga membentuk struktur tekanan sosial-ekonomi baru yang berpotensi memperdalam ketimpangan dan meningkatkan risiko ketidakstabilan finansial.

Oleh karena itu, konsumsi dan gaya hidup perlu dipahami sebagai fenomena sosial yang kompleks, tidak semata berkaitan dengan preferensi individu, tetapi juga dipengaruhi oleh konstruksi identitas, relasi kekuasaan, serta dinamika sosial-ekonomi dalam masyarakat digital kontemporer.


C. KESIMPULAN

Perkembangan konsumsi dan gaya hidup masyarakat kontemporer menunjukkan adanya pergeseran dari pemenuhan kebutuhan menuju pembentukan identitas dan status sosial yang dipengaruhi oleh media digital. Budaya flexing serta normalisasi konsumsi berlebihan memperkabur batas antara kebutuhan dan keinginan, sehingga memicu tekanan ekonomi dan meningkatkan kerentanan finansial, khususnya di kalangan generasi muda. Oleh karena itu, konsumsi dan gaya hidup perlu dipahami secara kritis sebagai fenomena sosial yang memiliki dampak signifikan terhadap struktur sosial dan ekonomi masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA

Nugroho, S. A. (2017). Transactions on the smartphone as a driving factor to Indonesian cashless transaction. ACMIT Proceedings, 4(1), 112–116.
https://doi.org/10.33555/acmit.v4i1.65

Prakoso, T. H. S., & Nathasya, V. (2022). The effects of celebrity endorsement, celebrity attributes, brand image, and e-WOM on purchase decisions through Instagram. Manajemen Dewantara, 6(3), 259–267.
https://doi.org/10.26460/md.v6i3.13013

Twenge, J. M., & Campbell, W. K. (2009). The Narcissism Epidemic: Living in the Age of Entitlement.


Penulis:
Muhammad Caroin
Semester 3 Administrasi Publik – Universitas Yudharta Pasuruan

Kalau mau, aku bisa:

Leave a Comment
error: Content is protected !!
×

 

Hallo Saya Admin Dialogmasa !

Jika Ada Saran, Kritikan maupun Keluhan yuk jangan Sungkan Untuk Chat Kami Lewat Pesan Pengaduan Dibawah ini Ya 

×