SUDUT PANDANG, DIALOGMASA.com – Beberapa tahun terakhir, semakin banyak mahasiswa memilih mengambil double major atau jurusan ganda. Di berbagai kampus, fenomena ini dipandang sebagai strategi untuk meningkatkan daya saing di pasar kerja. Namun di balik pilihan tersebut, tersimpan pertanyaan psikologis yang menarik; apakah ini murni strategi rasional, atau refleksi dari kecemasan ekonomi generasi muda?
Pasar kerja saat ini memang berubah cepat. Otomatisasi, digitalisasi, dan kecerdasan buatan menggeser banyak jenis pekerjaan. Profesi yang dulu stabil kini terasa rapuh. Dalam situasi seperti ini, mahasiswa berusaha “mengamankan masa depan” dengan menambah kompetensi.
Secara ekonomi, langkah ini tampak logis. Semakin banyak keterampilan, semakin luas peluang kerja. Namun dari sudut psikologi, keputusan ini sering didorong oleh career anxiety—kecemasan akan masa depan yang tidak pasti.
Psikologi Ketidakpastian
Teori ekonomi perilaku menunjukkan bahwa manusia cenderung menghindari kerugian (loss aversion). Ketika risiko kehilangan pekerjaan atau sulit mendapat kerja terasa besar, individu akan mengambil langkah ekstra untuk mengurangi kemungkinan gagal. Double major menjadi semacam “asuransi psikologis”.
Masalahnya, kecemasan yang tidak dikelola bisa berdampak negatif. Mahasiswa yang mengambil dua jurusan sering menghadapi beban akademik berat, waktu istirahat berkurang, dan tekanan performa meningkat. Alih-alih merasa lebih aman, mereka justru rentan terhadap stres dan burnout.
Di banyak kasus, motivasi mengambil double major bukan karena minat mendalam pada dua bidang, tetapi karena rasa takut tertinggal. Ketika keputusan didasarkan pada ketakutan, kepuasan intrinsik cenderung rendah.
Antara Passion dan Survival
Pilihan double major menjadi sehat ketika didorong oleh integrasi minat. Misalnya, mahasiswa psikologi yang mengambil tambahan di bidang bisnis untuk memahami perilaku konsumen, atau mahasiswa teknik yang belajar manajemen untuk menjadi inovator industri.
Namun ketika double major sekadar strategi “biar aman”, tanpa refleksi mendalam, hasilnya bisa kontraproduktif. Kompetensi tidak berkembang optimal karena energi terbagi. Identitas profesional pun menjadi kabur.
Dalam psikologi perkembangan karier, pembentukan identitas profesional yang jelas justru penting untuk rasa percaya diri dan kepuasan kerja jangka panjang.
Tantangan di Konteks Lokal
Di Indonesia, tekanan sosial turut memperkuat kecemasan karier. Orang tua berharap anak cepat bekerja dan mandiri. Media sosial memamerkan kesuksesan teman sebaya. Situasi ekonomi yang fluktuatif memperbesar rasa tidak aman.
Akibatnya, mahasiswa merasa harus selalu “lebih” dari yang lain: lebih pintar, lebih sibuk, lebih banyak sertifikat. Double major menjadi simbol kesiapan menghadapi masa depan, meskipun belum tentu menjadi solusi terbaik.
Strategi yang Lebih Seimbang
Alih-alih sekadar menambah jurusan, mahasiswa dapat mempertimbangkan alternatif lain misalnya; Mengambil kursus atau sertifikasi spesifik; Magang untuk pengalaman praktis; Mengembangkan soft skills seperti komunikasi dan kepemimpinan; Membangun jaringan profesional.
Penelitian menunjukkan bahwa keterampilan adaptif—seperti kemampuan belajar cepat dan regulasi emosi—seringkali lebih menentukan kesuksesan dibanding jumlah gelar.
Mengelola Kecemasan Karier
Kecemasan terhadap masa depan adalah hal wajar. Yang penting adalah bagaimana mengelolanya. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan; Membuat rencana karier fleksibel, bukan kaku; Berkonsultasi dengan dosen atau mentor; Mengevaluasi motivasi pribadi sebelum mengambil keputusan besar; Menjaga keseimbangan antara akademik dan kesehatan mental.
Double major bukanlah pilihan salah. Tetapi ia bukan pula jaminan mutlak kesuksesan. Dunia kerja modern menghargai kompetensi yang relevan dan kemampuan beradaptasi—bukan sekadar banyaknya gelar.
Pada akhirnya, keputusan pendidikan sebaiknya lahir dari refleksi yang matang, bukan dari ketakutan kolektif. Masa depan memang tidak pasti. Tetapi ketenangan psikologis dan arah yang jelas sering kali lebih berharga daripada sekadar menambah label akademik.
Karena karier yang baik bukan hanya soal bertahan hidup, melainkan juga soal makna dan pertumbuhan diri.
Muhammad Alwi (Sarjana Psikologi dan Magister Manajemen Human Resource).

