Bank Pakan dari Limbah, Gagasan Agus Suyanto Agar Siapa Saja Bisa Ternak Kambing

Diary Warda
5 Min Read

Bank Pakan dari Limbah, Gagasan Agus Suyanto Agar Siapa Saja Bisa Ternak Kambing

Diary Warda
5 Min Read

FEATURED, DIALOGMASA.com – Di Desa Watuagung, Kecamatan Prigen, seorang anak muda memilih melihat sesuatu yang berbeda dari kebanyakan orang. Ketika banyak petani membuang tebon jagung, tongkol, atau sisa gilingan hasil panen, Agus Suyanto justru melihatnya sebagai peluang. Dari situlah lahir satu gagasan sederhana: membuat bank pakan dari limbah agar siapa saja bisa beternak kambing.

Agus memulai beternak sekitar satu setengah tahun lalu. Awalnya hanya satu ekor, lalu dua ekor. Ia tidak langsung berbicara soal keuntungan besar. Ia lebih dulu menguji idenya: apakah limbah pertanian benar-benar bisa menjadi pakan yang layak?

Limbah jagung digiling, lalu dimasukkan ke dalam wadah rapat tanpa udara untuk difermentasi. Pakan itu bisa awet hingga setahun lebih. Ia menyebutnya “biskuit”. Sesekali ditambah rumput hijau dalam jumlah kecil, ransum itu sudah cukup memenuhi kebutuhan ternaknya. Ia mengamati dengan sabar. Dombanya mau makan. Tumbuh normal. Sehat.

Dari percobaan kecil itulah keyakinan muncul. Jika pakan bisa dibuat sendiri dari bahan yang melimpah di sekitar desa, maka hambatan terbesar peternak—biaya dan ketersediaan pakan—sebenarnya bisa diatasi

Mengubah Cara Pandang tentang Pakan

Selama ini banyak orang ragu beternak karena takut harga pakan mahal atau harus menghabiskan waktu mencari rumput setiap hari. Agus justru menawarkan cara lain.
Baginya, yang terpenting bukan sekadar daun apa yang dimakan, tetapi bagaimana mengolahnya. Domba memilih dari aroma, lalu rasa, baru nutrisi. Daun atau limbah yang awalnya tidak disukai bisa dicacah, dicampur dedak, lalu disilase. Setelah difermentasi, teksturnya lebih lunak dan rasanya lebih diterima ternak.

Dengan sistem itu, satu orang tidak lagi terpaku pada aktivitas ngarit. Skala ternak pun bisa bertambah. Jika cara tradisional membuat 10 ekor terasa berat, maka dengan manajemen pakan yang tepat, 50 hingga 100 ekor menjadi lebih realistis.
Hari ini, populasi ternak Agus sudah mencapai sekitar 150 ekor.

Bisnis yang Bisa Dimulai dari Modal Terbatas

Agus juga menekankan bahwa beternak kambing bukan usaha yang hanya bisa dimulai orang bermodal besar. Dengan sekitar satu juta rupiah, seseorang sudah bisa membeli satu bakalan indukan.
Dalam dua tahun, satu induk bisa beranak tiga kali. Jika rata-rata dua anak per kelahiran, maka enam ekor dalam dua tahun bukan hal yang sulit. Ketika sebagian anaknya betina, pertumbuhan populasi bisa meningkat lebih cepat dari perkiraan.

Di situlah letak kekuatan usaha ini bertumbuh secara alami dan berkelanjutan.
Menurutnya, fluktuasi harga kambing adalah hal biasa. Namun ketika peternak mampu menekan biaya pakan dengan memanfaatkan limbah sekitar, usaha menjadi lebih tahan terhadap naik turunnya harga pasar.

Dari Limbah Dapur hingga Kebun

Selain limbah jagung, Agus juga memanfaatkan sisa usaha keripik buah yang sudah ia jalankan sejak lama, seperti kulit dan biji nangka. Setelah difermentasi, bahan-bahan itu bisa menjadi cadangan pakan.

Ia menyebutnya sebagai “tabungan pakan” atau bank pakan—stok yang disiapkan ketika musim sulit atau rumput tidak tersedia. Dengan cara itu, kekhawatiran tentang kekurangan pakan bisa ditekan.
Baginya, Indonesia yang tanahnya subur dan hasil pertaniannya melimpah memiliki potensi besar di sektor ternak ruminansia seperti kambing dan domba. Tidak seperti unggas yang bergantung pada pakan pabrikan, kambing memungkinkan peternak membuat ransum sendiri.

Itulah sebabnya ia menyebut usaha ini sebagai bagian dari ekonomi kerakyatan.

Gagasan yang Membumi

Apa yang dilakukan Agus sebenarnya bukan sesuatu yang rumit. Ia hanya memanfaatkan apa yang ada di sekitar: limbah pertanian, sisa produksi, dan kemauan untuk belajar.
Dari satu-dua ekor, kini ratusan. Dari limbah yang terbuang, menjadi sumber penghidupan.

Gagasan bank pakan dari limbah yang ia kembangkan bukan sekadar soal efisiensi, tetapi tentang membuka pintu. Bahwa ternak kambing bukan milik mereka yang bermodal besar saja. Bahwa siapa pun, selama mau mengolah yang ada di lingkungannya, bisa memulai.

Di desa kecil itu, Agus Suyanto tidak sekadar membesarkan ternak. Ia menunjukkan bahwa peluang bisa tumbuh dari hal-hal yang selama ini kita anggap sepele. (AL/WD)

Leave a Comment
error: Content is protected !!
×

 

Hallo Saya Admin Dialogmasa !

Jika Ada Saran, Kritikan maupun Keluhan yuk jangan Sungkan Untuk Chat Kami Lewat Pesan Pengaduan Dibawah ini Ya 

×