Ekonomi dan Modernitas Menjauhkan Manusia dari Jati Dirinya By. Lujeng Sudarto

gayuh
4 Min Read

Ekonomi dan Modernitas Menjauhkan Manusia dari Jati Dirinya By. Lujeng Sudarto

gayuh
4 Min Read

SUDUT PANDANG, DIALOGMASA.com – Peradaban manusia terus bergerak maju. Teknologi berkembang pesat, sistem ekonomi semakin kompleks, dan kehidupan modern menawarkan kemudahan yang belum pernah dinikmati generasi sebelumnya. Namun di balik kemajuan itu, muncul paradoks yang semakin terasa: manusia justru kian mudah cemas, merasa terasing, dan kesepian. Ada kemajuan di luar diri manusia, tetapi pada saat yang sama terjadi kekosongan di dalam dirinya.


Fenomena ini bukan sekadar persoalan psikologis individual, melainkan gejala peradaban. Manusia modern hidup dalam sistem yang efisien dan produktif, tetapi sering kali kehilangan orientasi tentang siapa dirinya dan untuk apa ia hidup. Dalam konteks inilah pertanyaan Sayyid Baqir Shadr menjadi pemantik refleksi: “Mengapa kita mudah cemas dan kesepian padahal peradaban makin maju?” Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan sebagai keluhan, melainkan sebagai ajakan untuk meninjau kembali cara pandang manusia terhadap dirinya sendiri.


Sebagaimana dikemukakan Lujeng Sudarto, problem manusia modern tidak berhenti pada kemiskinan atau ketimpangan sosial. Akar persoalannya jauh lebih dalam, yakni krisis cara pandang tentang manusia. Ketika manusia dipahami hanya sebagai homo economicus—makhluk yang hidup dengan logika untung-rugi—maka kemanusiaan perlahan kehilangan maknanya. Manusia direduksi menjadi pelaku ekonomi, bukan lagi subjek bermoral yang utuh. Padahal manusia membutuhkan sistem hidup yang menjaga keseimbangan antara kebebasan dan keadilan, antara materi dan makna, serta kehidupan sosial yang berpijak pada tanggung jawab moral.
Cara pandang terhadap manusia sangat menentukan arah peradaban.

Dalam konsep Homo Economicus, manusia digambarkan sebagai makhluk rasional yang selalu bertindak untuk memaksimalkan keuntungan pribadi dengan pengorbanan sekecil mungkin. Setiap tindakan diukur melalui perhitungan efisiensi dan utilitas. Pandangan ini memang menjelaskan sebagian perilaku manusia modern, tetapi gagal menangkap keseluruhan hakikat kemanusiaan.
Sebagai kritik atas pandangan tersebut, muncul konsep Homo Socialis. Dalam perspektif ini, manusia dipahami sebagai makhluk sosial yang identitas dan perilakunya dibentuk oleh relasi dengan orang lain. Manusia tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga pengakuan, rasa aman, dan kerja sama dalam kehidupan bersama.

Namun, ketika manusia hanya dipahami sebagai makhluk sosial tanpa dimensi batiniah yang lebih dalam, kegelisahan eksistensial tetap tidak terjawab.


Di sinilah konsep Homo Spiritualis menemukan relevansinya. Pandangan ini melihat manusia memiliki dorongan eksistensial untuk mencari makna di luar materi. Manusia tidak puas hanya dengan kecukupan fisik atau penerimaan sosial. Ia selalu bergulat dengan pertanyaan mendasar tentang keberadaan dirinya dan mencari hubungan dengan sesuatu yang transenden.
Dalam tradisi Islam, gambaran manusia yang paling utuh dirumuskan dalam konsep Insan Kamil. Insan Kamil adalah manusia paripurna yang mampu menyeimbangkan seluruh dimensi kemanusiaannya: jasmani, intelektual, moral, dan ruhani. Ia tidak menafikan kehidupan dunia, tetapi juga tidak diperbudak olehnya.

Pandangan tentang keutuhan manusia ini sejalan dengan kritik Erich Fromm dalam bukunya To Have or to Be? (1976). Seperti dinukil dari keterangan Wikipedia, Fromm membedakan orientasi hidup manusia ke dalam dua kategori: memiliki (having) dan menjadi (being). Ia menulis bahwa masyarakat modern telah menjadi materialistis dan lebih memilih “memiliki” daripada “menjadi”.
Menurut Fromm, janji besar itu gagal karena tujuan hidup diarahkan pada kesenangan maksimal dan pemenuhan setiap keinginan. Dalam masyarakat industri, perkembangan sistem ekonomi tidak lagi ditentukan oleh pertanyaan apa yang baik bagi manusia, melainkan apa yang baik bagi pertumbuhan sistem itu sendiri.


Orientasi “memiliki” melahirkan manusia dengan kebutuhan dan keinginan yang tidak terbatas. Kepemilikan menjadi ukuran keberhasilan dan nilai diri. Namun Fromm menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang akan mati, dan yang tersisa bukan apa yang dimiliki, melainkan apa yang benar-benar hidup di dalam dirinya.
Pada akhirnya, ekonomi dan modernitas bukan hanya mengubah cara hidup manusia, tetapi juga menjauhkan manusia dari jati dirinya. Manusia tidak cukup hanya menjadi homo economicus, homo socialis, atau homo spiritualis secara terpisah. Ia harus menjadi manusia yang utuh. (Red)

Leave a Comment
error: Content is protected !!
×

 

Hallo Saya Admin Dialogmasa !

Jika Ada Saran, Kritikan maupun Keluhan yuk jangan Sungkan Untuk Chat Kami Lewat Pesan Pengaduan Dibawah ini Ya 

×