KISAH NABI NUH AS.

admin
17 Min Read

KISAH NABI NUH AS.

admin
17 Min Read

1. Nasabnya Nabi Nuh As.

Nasabnya Nabi Nuh ialah Nuh bin Lamik bin Matu Syalih bin Akhnukh (Idris).

2. Kenabian Nuh As.

Menurut Al-Qur’an: Usia Nabi Nuh ialah 950 tahun dan menerima wahyu kenabian dari Allah pada usia 480 tahun. Jadi, Nabi Nuh menjadi nabi kira-kira lebih kurang 500 tahun atau 5 abad lamanya. Menurut salah satu riwayat, setelah meninggalnya Adam, kehidupan manusia mengalami kerusakan. Mereka banyak yang menyembah patung-patung, bahkan banyak di antara mereka berprilaku seperti binatang-binatang yang tidak punya akal dan menyimpang dari ajaran Adam, karena mereka lupa pada ajaran Adam. Sehingga pada saat itu banyak terjadi pembunuhan, perampokan, dan perbuatan-perbuatan rusak lainnya. Oleh karena itu, Allah mengutus Nabi-Nabi dan Rasul untuk membimbing mereka dengan memberikan kabar gembira dan ancaman. Nabi yang pertama kali diutus oleh Allah untuk menyampaikan kabar gembira dan ancaman itu adalah Nabi Idris. Sepeninggal Nabi Idris, di antara manusia-manusia ada yang menjadi kafir dan jahat kelakuannya seperti binatang, dan ada yang menjadi orang baik-baik, Shaleh baik prilakunya, ucapan, maupun tindakannya. Diantara mereka yang baik-baik itu adalah; Wad, Suwa’, Yaghuts, dan Nashr. Kelima orang yang Shaleh tersebut akhirnya mati, walaupun mereka sudah mati, tapi nama mereka masih tetap harum di tengah-tengah masyarakat, dan kelima orang itu selalu diagung-agungkan. Karena mereka terlalu berlebihan dalam menyanjung dan mengagungkan, sampai kelima orang itu diabadikan dalam gambar-gambar dan patung-patung yang mereka sembah. Akhirnya kecintaan dan penghormatan terhadap kelima orang laki-laki itu sampai kepada anak cucu mereka dan turun-temurun, dan pada puncaknya orang yang baik-baik tersebut dihormati, dipuja-puja, dimintai syafaat, dan dimintai sesuatu yang dihajatkan. Karena anggapan mereka orang-orang yang baik-baik itu (Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nashr) itu adalah Tuhan. Begitulah seterusnya I’tikad yang demikian semakin mendalam. Ajaran yang dibawa Adam, Idris sudah mereka lupakan, sudah tidak lagi menyembah Allah yang wujudnya tidak ada di hadapannya, dan mereka semua beralih menyembah kepada patung-patung yang mereka buat sendiri dan dapat dilihat dengan jelas oleh mata mereka.

Tugas-tugas berat seperti itulah yang diemban oleh Nabi Nuh untuk memberi peringatan, menyampaikan Risalah, menyampaikan ajaran Allah, dan mengajak mereka supaya menyembah kepada Allah.

3. Nabi Nuh Memberantas Patung-patung Dan Berhala-berhala.

Di tengah-tengah masyarakat yang lagi rusak akhlaknya dan rusak moralnya, Nabi Nuh dengan penuh kesabaran dan keyakinan yang kuat menyampaikan ajaran-ajaran Tuhan kepada semua kaumnya dengan kata-kata yang fasih dan penuh hikmah. Nabi Nuh mengajak kepada kaumnya agar menyembah Allah dan meninggalkan menyembah kepada patung-patung dan berhala-berhala yang terbuat dari batu. Dalam Al-Qur’an disebutkan nama-nama patung dan berhala yang mereka sembah, sebagaimana firman Allah dalam surah Nuh ayat 23 dan 24:

Artinya: “Dan mereka berkata: Janganlah sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu, dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) terhadap Wad, dan jangan pula terhadap Suwa, Yaghuts, Ya’ud, dan Nashr. Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia) dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang dhalim itu selain kesesatan”.

4. Nabi Nuh Mulai Berda’wah ke Jalan Allah.

Dengan penuh kesabaran dan tidak mengenal putus asa, Nabi Nuh mempergunakan hampir seluruh umurnya yang diberikan Allah untuk menghadapi kaumnya yang sama-sama ingkar kepada ajaran-ajaran Nabi yang terdahulu, dengan menyembah kepada patung-patung dan berhala-berhala. Bahkan dalam waktu yang hampir seribu tahun, Nabi Nuh berda’wah hanya mendapatkan pengikut sekitar 75 orang, yang semuanya terdiri dari orang-orang lemah dan melarat, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al ‘Ankabut ayat 14:

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nabi Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun”.

Dalam waktu yang cukup lama tersebut, Nabi Nuh mengajak kepada kaumnya untuk meninggalkan perbuatan jahat dan mengajak menyembah kepada Allah serta taat kepada apa yang diperintahkan oleh Allah, sebagaimana firman Allah dalam surah Nuh ayat 2 – 4:

Artinya: “Nuh berkata: Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertaqwalah kepada-Nya, dan taatlah kedaku (Nuh), niscaya Allah akan mengampuni kepada sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu, sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui”.

5. Ocehan kaumnya Nabi Nuh.

Usaha keras yang dilakukan oleh Nabi Nuh untuk menyampaikan ajaran Allah tidak berhasil, malah Nabi Nuh mendapat ocehan, omelan dari kaumnya. Ada beberapa alasan yang menyebabkan Nabi Nuh mendapatkan ocehan dari kaumnya, di antaranya adalah:

Nuh adalah seorang manusia biasa yang membutuhkan makan dan minum seperti kita ini.

Pengikut-pengikut Nuh itu adalah orang-orang yang melarat dan hina, kaum fakir dan miskin serta buruh.

Mereka menuduh Nuh dan para pengikutnya sebagai orang-orang bohong, tapi tuduhan itu tidak dapat dibuktikan dengan bukti yang nyata.

Ocehan dan omelan yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh atas dakwah yang dilakukan oleh Nabi Nuh dengan metode ceramah itu, sesuai dengan firman Allah dalam surah Hud ayat 27:

Artinya: “Maka berkatalah pemimpin-pemimpin kafir dan kaumnya: Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”.

6. Dakwahnya Nabi Nuh Kepada Kaumnya Lewat Diskusi.

Kegagalan Nabi Nuh dalam menyampaikan dakwah dengan metode ceramah tidak membuahkan hasil, tidak membuat Nabi Nuh mundur dan putus asa, malah dengan kegagalan tersebut membuat Nabi Nuh tambah semangat dan giat untuk mencari cara dan metode yang tepat untuk menyampaikan dakwahnya, yaitu dakwah dengan cara diskusi (tanya jawab), baik secara perorangan maupun dengan cara kelompok. Dan keduanya saling mendatangkan bukti dan dalil yang dapat diajukan.

Nampaknya kebodohan dan kegelapan itulah yang menyelimuti pada diri pribadi kaumnya Nabi Nuh, sehingga dengan cara apapun Nabi Nuh menyampaikan dakwahnya, kaumnya masih belum mau mengindahkan ajaran-ajaran Allah yang dibawa oleh Nabi Nuh.

7. Dakwahnya Nabi Nuh dengan Menunjukkan Keagungan Dan Kekuasaan Allah.

Dengan berbagai cara dan metode Nabi Nuh berdakwah kepada kaumnya tapi tidak pernah membuahkan hasil. Dan cara terakhir yang dilakukan oleh Nabi Nuh untuk berdakwah adalah dengan cara menunjukkan bukti keagungan dan kebesaran kekuasaan Allah yang dapat dilihat dan dinikmati oleh kaumnya baik secara langsung maupun tidak langsung.

Diantara dakwah Nabi Nuh dengan cara menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah, sebagaimana firman Allah dalam surah Nuh ayat 15 – 20, yang artinya:

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat?, dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?. Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (dari padanya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang lurus di bumi itu”.

8. Keingkaran Kaumnya Nabi Nuh Tambah Memuncak.

Perkataan dan nasehat Nabi Nuh yang bagaimana pun bentuknya, baik yang berupa ceramah, diskusi atau dengan menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah, tidak membawa pengaruh apa-apa, tidak membuka pintu kebaikan di hatinya, bahkan mereka tambah sombong dan membantah serta menantang Nabi Nuh, agar mendatangkan azab Allah, sebagaimana firman Allah dalam surah Hud ayat 32-34, yang artinya :

“Mereka (kaumnya Nuh) berkata: Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah membantah dengan kami, dan kamu tidak memperpanjang bantahanmu terhadap kami maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar. Nuh menjawab: Hanyalah Allah yang mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki, dan kamu sekali-kali tidak melepaskan diri. Dan tidaklah bermanfaat kepadamu nasehatku jika aku hendak memberi nasehat kepada kamu, sekiranya Allah hendak menyesatkan kamu. Dia adalah Tuhanmu, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan”.

Disamping mereka sombong dan menentang Nabi Nuh, mereka juga berlaku sombong dan menjelek-jelekkan Nabi Nuh, sebagaimana firman Allah dalam surah Asy Syu’ara ayat 116:

Artinya: “Sungguh jika kamu tidak (mau) berhenti hai Nuh, niscaya benar-benar kamu akan termasuk orang-orang yang dirajam”.

9. Nabi Nuh Mengadu Kepada Tuhan

Berbagai macam cara yang dilakukan oleh Nabi Nuh, baik dengan cara ceramah, diskusi, dan menunjukkan bukti kekuasaan tidak membuahkan hasil. Malah, kaumnya semakin bertambah semangat dalam menentang dan memusuhi Nabi Nuh. Maka, Nabi Nuh mengadu kepada Tuhan sambil memanjatkan agar Tuhan melenyapkan semua orang kafir di muka bumi ini. Tak seorang pun yang perlu ditinggalkan. Karena jika Allah membiarkan orang-orang kafir hidup terus, mereka akan terus membuat kerusakan dan berbuat jahat, bahkan akan mewariskan kesesatan itu kepada generasi penerusnya.

Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an diantaranya:

Surah Asy Syua’ra ayat 117 dan 118:

Artinya: “Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah mendustakan aku, karena itu adakanlah keputusan antara orang-orang yang mu’min besertaku.”

Surah Al Qamar ayat 10:

Artinya: “Maka dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya, bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu, menangkanlah aku.”

Surah Nuh ayat 26 – 27:

Artinya: “Nuh berkata: Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.”

10. Nabi Nuh Dan Pengikutnya Membuat Kapal.

Setelah Allah mendengar doa dan pengaduan Nabi Nuh, Allah menurunkan wahyu kepada Nuh untuk membuat kapal atau perahu keselamatan (Safinatun Najah). Dalam pembuatan perahu itu, Nuh dibantu oleh para pengikutnya yang beriman dan dibantu pula oleh tukang-tukang perahu.

Perbuatan yang dilakukan Nabi Nuh dan pengikutnya tersebut mendapat cemoohan dan hinaan dari orang-orang kafir yang menyombongkan diri. Karena Nabi Nuh membuat perahu tersebut pada musim panas. Menanggapi ejekan dan hinaan dari orang-orang kafir tersebut, Nabi Nuh hanya mengatakan, “Bahwa sebentar lagi kami akan mengejekmu dengan adzab Allah,” sebagaimana firman Allah dalam surah Hud ayat 36 – 39 yang artinya:

“Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kamu, kecuali orang yang telah beriman (saja). Karena itu janganlah kamu bersedih tentang apa yang selalu mereka kerjakan. Dan buatlah bahtera (perahu) itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang dzalim itu, sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh, jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya (kami pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). Kelak kamu akan mengetahui siapayang akan ditimpa oleh adzab yang menghinakannya, dan yang akan ditimpa adzab yang kekal.”

11. Datangnya Banjir Besar.

Setelah Nabi Nuh selesai membuat perahu, mulailah terlihat tanda-tanda akan datangnya adzab Allah kepada orang yang kafir. Langit sudah mulai mendung yang sangat tebal, angin-angin kencang mulai berhembusan, dan tidak lama kemudian turun hujan yang sangat lebat yang menghancurkan tanaman, menenggelamkan tumbuh-tumbuhan, dan menenggelamkan orang-orang kafir yang sombong.

Sementara itu, Nabi Nuh dan para pengikutnya sudah berada pada perahu keselamatan yang sudah dibuat sebelumnya. Tidak ketinggalan pula dalam perahu keselamatan tersebut, semua jenis tumbuh-tumbuhan dan hewan-hewan milik pengikutnya Nabi Nuh, sebagaimana firman Allah dalam Surah Hud ayat 40 – 42 yang artinya:

“Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: Muatkanlah kedalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang-orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman. Dan tidak beriman bersama Nuh itu kecuali sedikit. Dan Nuh berkata: Naiklah kamu sekalian kedalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung.”

12. Tenggelamnya Putra Nuh.

Nabi Nuh telah tahu bahwa banjir yang menimpa kaumnya yang ingkar itu akan memusnahkan semuanya tanpa seorang pun yang selamat. Oleh karena itu, pada saat banjir datang, Nabi Nuh berusaha menyelamatkan keluarganya termasuk anaknya agar terhindar dari bahaya banjir. Tetapi anaknya (Nuh) yang bernama Kan’an itu termasuk orang yang mengkufurkan ajaran yang dibawa Nabi Nuh, sehingga Kan’an termasuk golongan orang akan menerima adzab dari Allah.

Setelah Nabi Nuh mengetahui bahwa anaknya yang ingkar tersebut tidak dapat diselamatkan, Nabi Nuh menyesali perbuatannya dan mengaku berdosa sambil berkata: Aku mohon perlindungan-Mu wahai Tuhanku, dan takut kepada-Mu. Sekarang aku berlindung kepada-Mu. Jika Engkau tidak segera mengampuni dan menyayangku, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi. Dan dengan datangnya bencana banjir tersebut, seluruh kaumnya Nabi Nuh yang ingkar sama binasa, termasuk di dalamnya anak dan istrinya yang juga kufur kepada ajaran Nuh.

13. Banjir Telah Redah.

Setelah bencana banjir yang begitu besar yang membinasakan seluruh kaumnya Nabi Nuh yang kufur, maka awan-awan di langit mulai hilang, hujan-hujan mulai berhenti, bumi sudah mulai mengisap air, dan kapal yang ditumpangi Nabi Nuh sudah berlabu di atas gunung. Kemudian Allah memerintahkan pada Nabi Nuh turun dari bahtera perahunya, dan mulai dengan kehidupan baru lagi setelah terjadinya bencana yang begitu besar.

Dalam akhir kisah Nuh ini, Allah menuturkan kisah ini kepada Nabi Muhammad saw., seraya berfirman: ‘Kisah Nabi Nuh dan kaumnya yang kami ceritakan kepadamu (Muhammad) adalah kabar ghaib. Kamu dan kaummu tidak mengetahui kisah ini kepadamu. Maka sabarlah dalam menghadapi dari kaummu, seperti keberuntungan sebagaimana yang pernah diperoleh Nuh. Dan akibat yang baik itu senantiasa akan diperoleh orang-orang yang bertaqwa.

Contoh kesabaran Nabi Nuh yang dituturkan Allah kepada Muhammad juga terdapat dalam firman Allah surah Hud ayat 49: ‘Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang ghaib, yang kami wahyukan kepadamu (Muhammad). Tidak pernah kamu mengetahuinya dan tidak (pula) kaummu sebelum ini. Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertaqwa.

 

Diambil dari buku Mutiara Kisah 25 Nabi dan Rosul

Karya: Ust. M. Hamid

 

Leave a Comment
error: Content is protected !!
×

 

Hallo Saya Admin Dialogmasa !

Jika Ada Saran, Kritikan maupun Keluhan yuk jangan Sungkan Untuk Chat Kami Lewat Pesan Pengaduan Dibawah ini Ya 

×