PASURUAN, DIALOGMASA.com – KOPRI PC PMII Pasuruan menyatakan kesiapan berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan DPRD dalam upaya penanganan serta pencegahan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di wilayah Pasuruan.
Komitmen tersebut disampaikan Ketua KOPRI PC PMII Pasuruan, Iradatus Sholihah, kepada Dialog Masa, Jumat (16/01/26).
Menurutnya, persoalan kekerasan anak dan perempuan sudah berada pada tahap mengkhawatirkan sehingga membutuhkan sinergi lintas pihak.
“Kami siap terlibat bersama DPR dan pemerintah. Ketika ada sosialisasi ke masyarakat, KOPRI bisa ikut hadir untuk menguatkan edukasi. Begitu juga jika ada kasus tertentu, kami siap mengawal dan melakukan pendampingan bersama,” ujar Ira.
Ia mencontohkan sejumlah kasus yang pernah terjadi di Pasuruan, di antaranya kasus siswi SMP yang menjadi korban pemerkosaan oleh tujuh orang termasuk ayah kandungnya, kasus bocah SD di Wonorejo yang dibunuh tetangganya, serta kasus kekerasan seksual terhadap siswi SMP oleh belasan pelaku. Deretan peristiwa itu, menurutnya, menjadi alarm keras bagi semua pihak.
Komitmen kolaborasi KOPRI menguat setelah organisasi mahasiswa tersebut menggelar audiensi dengan DPRD Kota dan Kabupaten Pasuruan beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan itu dibahas pentingnya langkah preventif sekaligus penanganan yang berpihak pada korban.
Selain keterlibatan dalam sosialisasi, KOPRI juga mendorong penguatan kelembagaan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) di tingkat desa melalui dukungan anggaran yang memadai.
“Dana operasional untuk PPA desa harus diperkuat agar program pencegahan dan pendampingan bisa berjalan maksimal tanpa kendala,” tegasnya.
KOPRI PC PMII Pasuruan berharap pemerintah daerah dan DPRD menjadikan isu kekerasan anak dan perempuan sebagai prioritas kebijakan. Sinergi antara negara dan elemen masyarakat dinilai menjadi kunci untuk memutus rantai kekerasan sekaligus memberi rasa aman bagi perempuan dan anak di Pasuruan. (AL/WD)

