SUDUT PANDANG, DIALOGMASA. com–Fenomena menunda pernikahan dan memiliki anak kini semakin lazim, terutama di kalangan usia produktif. Alasan yang paling sering dikemukakan adalah faktor ekonomi: pendapatan belum memadai, pekerjaan belum stabil, serta biaya hidup yang terus meningkat. Sekilas, keputusan tersebut tampak sebagai pilihan individual. Namun jika ditelaah lebih dalam, terdapat persoalan ekonomi struktural yang turut membentuk dan memengaruhi keputusan tersebut.
Ekonomi peraih Nobel, Gary S. Becker, memandang keluarga sebagai unit ekonomi yang senantiasa mempertimbangkan biaya dan manfaat dalam setiap keputusan. Dalam A Treatise on the Family (1981), Becker menegaskan bahwa keputusan menikah dan memiliki anak tidak pernah terlepas dari keterbatasan sumber daya. Artinya, tekanan ekonomi yang bersifat sistemik akan berdampak langsung pada pilihan-pilihan dalam kehidupan rumah tangga.
Beban Ekonomi dan Cara Pandang Individu
Pada level individu, banyak orang memilih menunggu kondisi finansial yang dianggap mapan sebelum menikah atau memiliki anak. Persoalannya, ukuran “cukup” sering kali terus bergeser, seiring meningkatnya standar gaya hidup. Thorstein Veblen telah lama mengingatkan tentang conspicuous consumption, yakni pola konsumsi yang lebih berorientasi pada simbol status sosial daripada pemenuhan kebutuhan dasar. Dalam konteks ini, pernikahan dan pengasuhan anak kerap dibayangkan sebagai sesuatu yang harus serba ideal dan mahal.
Rendahnya literasi keuangan juga memperparah situasi. Laporan OECD (2020) menunjukkan bahwa individu dengan pemahaman keuangan yang minim cenderung tidak memiliki perencanaan jangka panjang dan lebih rentan terhadap tekanan ekonomi. Akibatnya, pendapatan yang sebenarnya cukup untuk hidup sederhana kerap terasa selalu kurang.
Namun demikian, tidak adil jika persoalan ini sepenuhnya dibebankan pada individu. Banyak keputusan yang tampak “rasional” sejatinya lahir dari kondisi struktural yang memang tidak ideal.
Persoalan Struktural dan Tanggung Jawab Negara
Dari sudut pandang makro, terdapat masalah mendasar dalam sistem ekonomi. Kenaikan upah di berbagai daerah kerap tidak sejalan dengan melonjaknya harga kebutuhan pokok, terutama perumahan, pendidikan, dan layanan kesehatan. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa inflasi di sektor-sektor tersebut sering kali melampaui pertumbuhan upah riil.
World Bank (2019) juga mencatat bahwa negara-negara dengan kebijakan yang kurang ramah keluarga—seperti minimnya subsidi pengasuhan anak, cuti melahirkan yang terbatas, serta lemahnya jaminan kerja bagi orang tua—cenderung mengalami penurunan angka kelahiran dan penundaan pembentukan keluarga. Dalam kondisi seperti ini, pasangan muda dihadapkan pada dilema antara mempertahankan pekerjaan atau membesarkan anak.
International Labour Organization (ILO) menambahkan bahwa meningkatnya pola kerja kontrak dan sektor informal menciptakan ketidakpastian jangka panjang. Ketika masa depan pekerjaan tidak menentu, wajar jika individu enggan mengambil komitmen besar seperti menikah dan memiliki anak.
Dengan demikian, fenomena penundaan ini tidak semata-mata mencerminkan mentalitas generasi muda, melainkan cerminan dari sistem ekonomi yang belum sepenuhnya mendukung keberlanjutan kehidupan keluarga.
Menyiapkan Generasi Dewasa yang Lebih Realistis
Di tengah realitas tersebut, generasi muda perlu dibekali cara pandang yang lebih seimbang. Literasi keuangan sejak dini menjadi kunci agar individu mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Penghasilan yang besar tanpa pengelolaan yang baik tidak serta-merta menghadirkan rasa aman.
Selain itu, peningkatan kualitas diri juga tak kalah penting. Adam Smith dalam The Wealth of Nations menegaskan bahwa modal terpenting dalam pembangunan adalah modal manusia. Pendidikan, keterampilan, dan kemampuan beradaptasi akan menentukan ketahanan ekonomi jangka panjang, jauh melampaui besaran gaji awal.
Lebih jauh, perlu ditanamkan kesadaran bahwa pernikahan dan pengasuhan anak merupakan proses yang bertahap. Amartya Sen mengingatkan bahwa pembangunan sejati bukan sekadar peningkatan pendapatan, melainkan perluasan kemampuan manusia untuk menjalani hidup secara bermakna. Kesiapan hidup bukan berarti bebas dari masalah, melainkan kesiapan untuk tumbuh dan beradaptasi di tengah keterbatasan.
Penutup
Menunda menikah dan memiliki anak karena alasan ekonomi merupakan keputusan yang dapat dipahami dalam konteks tekanan hidup modern. Namun apabila fenomena ini terus meluas, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, melainkan juga oleh masyarakat dan negara—mulai dari penuaan penduduk hingga melemahnya regenerasi tenaga kerja.
Oleh karena itu, solusi tidak dapat dibebankan semata pada individu. Diperlukan kebijakan ekonomi yang lebih berpihak pada keluarga muda, disertai peningkatan literasi dan kesadaran finansial masyarakat. Ekonomi semestinya menjadi sarana untuk membangun kehidupan yang berkelanjutan, bukan justru menjadi penghalang untuk memulainya.

