Tak Hanya Saat Hidup, Setelah Wafat pun Wali Allah Mbah Dul Tetap Bermanfaat bagi Masyarakat

Diary Warda
4 Min Read

Tak Hanya Saat Hidup, Setelah Wafat pun Wali Allah Mbah Dul Tetap Bermanfaat bagi Masyarakat

Diary Warda
4 Min Read

FEATURE, DIALOGMASA.com — Ribuan jamaah dari berbagai daerah memadati kompleks makam KH Abdullah bin KH Rofi’i, yang akrab disapa Mbah Dul, di Banjar Tempuran, Banjar Kejen, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Sabtu (31/01/26).

Mereka berdatangan dalam rangka Peringatan Haul ke-25 sang wali Allah, Mbah Dul. Haul ini digelar selama dua hari, Sabtu–Ahad, 31 Januari hingga 1 Februari 2026, dan menjadi bukti bahwa kebermanfaatan orang saleh tidak berhenti meski telah wafat.

Semasa hidupnya, Mbah Dul dikenal sebagai sosok sederhana dengan pola hidup yang bersahaja dan berbeda dari kebanyakan orang. Penampilannya tidak mencolok, ucapannya sedikit, namun kehadirannya selalu memberi kesan mendalam.

Di mata masyarakat sekitar Bangil, hingga wilayah Pasuruan lainnya, Mbah Dul bukan sekadar kiai, melainkan tempat mengadu, dan sering kali menjadi solusi atas berbagai persoalan hidup.

Banyak cerita yang berkembang secara lisan dari mulut ke mulut tentang keistimewaan dan kemuliaan akhlak beliau. Masyarakat meyakini bahwa Mbah Dul adalah manusia pilihan, yang dihadirkan Allah untuk membawa manfaat tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi alam di sekitarnya.

Salah satu kisah yang kerap diceritakan adalah pengalaman seseorang yang tengah menunaikan ibadah di Makkah. Orang tersebut mengaku melihat sosok Mbah Dul berada di Tanah Suci. Sepulangnya ke tanah air, rasa penasaran membawanya untuk memastikan kabar itu. Namun faktanya, Mbah Dul tidak pernah meninggalkan rumahnya di Bangil, Pasuruan, pada waktu yang dimaksud. Kisah ini diyakini masyarakat sebagai salah satu bentuk karomah yang Allah anugerahkan kepada beliau.

Cerita lain yang tak kalah masyhur terjadi saat Mbah Dul masih menjalankan usaha konveksi kecil berupa permak pakaian. Suatu hari, seorang pelanggan mengeluh karena panjang lengan baju yang tidak sama. Tanpa banyak bicara, Mbah Dul menarik lengan baju yang lebih pendek, dan—atas izin Allah—panjangnya menjadi sama. Kisah ini terus hidup sebagai pengingat bahwa kemuliaan seseorang sering kali hadir dalam keseharian yang sederhana.

Ada pula kisah tentang seseorang yang datang dengan niat meminta doa dan air yang telah didoakan untuk kesembuhan anggota keluarganya. Sebelum maksud itu sempat disampaikan, Mbah Dul justru menyuruh orang tersebut untuk pulang. Dengan penuh kebingungan namun tetap patuh, orang itu pulang. Setibanya di rumah, ia mendapati kerabatnya yang sakit mengalami perubahan drastis dan berangsur sembuh.

Peristiwa-peristiwa semacam ini semakin menguatkan keyakinan masyarakat akan kewalian Mbah Dul.

Kini, setelah 25 tahun wafat, keberadaan Mbah Dul tetap menghadirkan manfaat nyata. Haul tahunan yang diselenggarakan di kompleks makam beliau—yang berada di area pondok pesantren peninggalan Mbah Dul sendiri, sebuah pesantren besar bertingkat tiga dan sarat nilai sejarah—menjadi magnet spiritual bagi kaum muslimin dari Pasuruan, Jawa Timur, Jawa Tengah dan lainnya.

Selain nilai religius, haul ini juga menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Selama kegiatan berlangsung, kawasan sekitar makam dipenuhi pedagang kaki lima: penjual makanan, minuman, pakaian, jajanan, mainan anak, hingga alas duduk bagi jamaah.

Perputaran ekonomi yang hidup ini menjadi bukti nyata bahwa orang saleh, wali Allah, tetap memberi manfaat luas—bahkan setelah wafatnya.

Untuk diketahui, rangkaian Haul ke-25 Mbah Dul diawali pada Sabtu, 31 Januari 2026, dengan pembacaan shalawat Nabi dan seni Ishari yang diikuti masyarakat dari berbagai wilayah di Pasuruan. Keesokan harinya, Ahad, 1 Februari 2026, acara dilanjutkan dengan pengajian umum serta rangkaian tahlil dan doa bersama.

Peringatan haul ini terbuka bagi siapa pun yang ingin menimba hikmah dan mengharap keberkahan dari para kekasih Allah. Berkumpul dalam majelis cinta kepada orang-orang saleh, jamaah berharap dapat meneladani kesantunan, keikhlasan, dan kebermanfaatan hidup sebagaimana yang telah dicontohkan oleh KH Abdullah bin KH Rofi’i (Mbah Dul).

Semoga melalui haul ini, nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan Mbah Dul terus hidup, mengalir, dan memberi cahaya bagi generasi setelahnya. (Red)

Leave a Comment
error: Content is protected !!
×

 

Hallo Saya Admin Dialogmasa !

Jika Ada Saran, Kritikan maupun Keluhan yuk jangan Sungkan Untuk Chat Kami Lewat Pesan Pengaduan Dibawah ini Ya 

×