PASURUAN, DIALOGMASA.com — Konsistensi pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang dilakukan Bank Sampah Teratai Putih di Desa Ranuklindungan, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan, dinilai layak menjadi contoh bagi desa-desa lain. Bank sampah yang berdiri sejak 28 April 2018 ini telah berjalan selama tujuh tahun dan terus aktif hingga kini.
Bank Sampah Teratai Putih yang berada di RW 4 tersebut dipimpin oleh Siti Aisyah dengan dukungan 13 orang pengurus. Hingga saat ini, bank sampah tersebut memiliki 155 nasabah aktif dari total jumlah penduduk Desa Ranuklindungan sebanyak 4.062 jiwa.
Dalam satu bulan, Bank Sampah Teratai Putih mampu mengelola sekitar 350 kilogram sampah anorganik. Sementara itu, pengelolaan sampah organik juga berjalan optimal, dengan 1.800 hingga 2.000 kilogram sampah organik diolah menjadi sekitar 350–400 kilogram kompos siap pakai.
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Bank Sampah Teratai Putih mendapat support CSR dari Indonesia Power berupa satu unit rumah kompos dan satu unit rumah maggot, yang mendukung pengelolaan sampah organik secara berkelanjutan.

Konsistensi pengelolaan lingkungan yang dilakukan warga juga mengantarkan Desa Ranuklindungan meraih sejumlah capaian, di antaranya lolos Program Desa Bersih dan Lestari (Desa Berseri) kategori Mandiri serta Program Kampung Iklim (ProKlim) kategori Pratama.
Secara keseluruhan, Desa Ranuklindungan memiliki enam bank sampah aktif yang tersebar di beberapa wilayah, yakni Bank Sampah Basuki (RW 1), Bank Sampah Camp (RW 2), Bank Sampah Magersari Bersinar (RW 3), Bank Sampah Teratai Putih (RW 4), Bank Sampah Cempaka (RW 5), serta Bank Sampah Induk Desa Ranuklindungan Dewi Endang Sukarni.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasuruan, Nur Kholis, mengapresiasi konsistensi yang ditunjukkan masyarakat Desa Ranuklindungan dalam pengelolaan sampah dari sumbernya.
“Bank sampah di Desa Ranuklindungan, khususnya Bank Sampah Teratai Putih, menunjukkan konsistensi yang baik. Menjadi petugas di bidang sampah bagi saya adalah prestasi karena tidak semua orang mau untuk itu. Dan bertahan dalam kurun waktu 7 tahun adalah bukti kesabaran dan tanggung jawab nyata menjaga lingkungan,” ujar Nur Kholis kepada media Rabu siang, (31/12/25).
Masih Nur Kholis, “Ini layak menjadi contoh bagi desa-desa lain,” imbuhnya.
Ia menambahkan, capaian Desa Berseri kategori Mandiri dan ProKlim kategori Pratama menjadi bukti komitmen desa dalam menjaga lingkungan hidup.
“Keberhasilan ini tidak instan, tetapi merupakan hasil kerja bersama yang dilakukan secara terus-menerus, terima kasih dedikasinya, kami bangga dan sangat berterimakasih,” pungkasnya. (AL/WD)

